Kematian dan Absurditas

Oleh: Ricky Manik*

Di Wilmington, pinggiran kawasan Los Angeles California, satu keluarga tewas. Tepatnya tanggal 3 Januari 2009, sebuah letusan di kepala menjadi akhir kehidupan
keluarga itu. Di rumah itu, polisi menemukan tujuh sosok mayat yang masih hangat, darah yang masih mengalir dan bau bubuk mesiu peluru yang sengit. lima anaknya turut menjadi korban ketaksanggupan, ketakmampuan, ketakberdayaan orang tua menghadapi hidup yang dianggap sulit dan sukar ini. Di ruangan itu 2 bocah kembar berumur 2 tahun, 2 bocah kembar berumur 5 tahun, 1 berumur 8 tahun, dan kedua orang tua mereka. Pria yang teridentifikasi bernama Irvine Lupo itu diduga lebih dulu menembak istri lalu secara bergiliran kelima anaknya. Terakhir, Lupo melesakkan peluru ke kepalanya. Surat kabar menduga kematian mereka karena ketaksanggupan menahan beban ekonomi yang begitu berat.

Sebelum pembunuhan dan bunuh diri itu dilakukan, Lupo sempat menelpon dan mengirimkan faks ke sebuah stasiun televisi lokal. Dalam faksnya itu Lupo mengaku bahwa ia dan istrinya baru saja di pecat dari pekerjaan teknisi kesehatan. Disebutkan juga, perempuan itu menyarankan membunuh anak-anak mereka lalu bunuh diri.
“Mengapa harus meninggalkan anak-anak dengan orang asing? Kami menganggur dan anak-anak di bawah delapan tahun tidak punya tempat tinggal. Jadi inilah kami. Oh Tuhanku, tidak adakah harapan bagi anak janda?” demikian tulis Lupo dalam faksimile itu.
Dalam jumpa pers, Wali Kota Los Angeles, Antonio Villaraigosa, mengaku sulit memahami mengapa orang berbuat hal sekeji itu. "Tak satu pun orang yang saya kenal bisa memahami apa yang mendorong orang mengambil langkah yang demikian mematikan," katanya.
Sesuatu Tentang Absurditas
Sekilas, mungkin kita belum mengetahui dorongan apa yang melatarbelakangi orang melakukan bunuh diri. Ada banyak penyebab bunuh diri, dan pada umumnya, penyebab yang paling kentara bukanlah penyebab yang paling menentukan. Apakah mungkin pada saat kejadian itu sebuah perusahaan atau instansi yang melakukan pemecatan itu adalah satu-satunya penyebab? Jika demikian perusahaan atau instansi itulah yang bersalah, karena pemecatan itu cukup untuk mengakibatkan memuncaknya semua dendam dan kejemuan yang sampai saat itu masih tertahan.
Namun, dalam arti tertentu membunuh diri adalah pengakuan si pelaku bahwa ia telah terkalahkan oleh kehidupan atau bahwa ia tidak mengerti kehidupan. Membunuh diri adalah semata-mata mengakui bahwa “hidup sudah tidak layak dijalani”. Albert Camus melihat hal ini sebagai sebuah pilihan hidup atau keputusan yang diambil dari proses pemaknaan hidup. Bunuh diri merupakan jalan keluar dari masalah dan ketragisan hidup yang manusia sendiri tidak tahu kapan akan menghadapinya. Lalu, kebiasaan hidup dan derita panjang adalah suatu proses pemaknaan akan hidup itu sendiri. Itulah yang oleh Camus disebut sebagai absurditas. Dunia dan manusia yang absurd. Akan tetapi, menurut Camus, bunuh diri bukan suatu pemecahan. Ia berpendapat bahwa manusia harus menerima keanehan kondisinya. Adalah kehormatan bagi manusia yang berhasrat menanamkan kebesaran hatinya untuk memperoleh kejelasan di tengah ketidakrasionalan yang begitu banyak.
Dalam hidup ini ada proses panjang yang dilalui. Absurditas lebih kepada proses panjang atau pengalaman yang tak henti dilakukan manusia dalam mencari makna hidup. Dari situlah kemudian manusia itu bertumbuh dan dewasa dalam pemikiran. Akan tetapi, apabila makna itu sudah tidak dapat diuraikan, maka manusia itu akan terjerumus dalam kepasrahan. Dalam artian, manusia harus menyadari bahwa manusia hidup di dunia yang absurd. Manusia harus menyadari bahwa persoalan dan permasalahan merupakan kebutuhan dalam hidupnya, karena dengan demikian manusia akan menelaah habis-habisan semua yang dihadapi, tanpa harus mempedulikan tatanan nilai-nilai; demkianlah wujud moral manusia absurd.
Kematian menjadi begitu akrab ketika manusia itu memilih untuk menyerah menghadapi gelombang persoalan dalam hidupnya. Hidup manusia yang absurd. Bunuh diri dianggap jalan keluar yang tepat dari yang absurd. Pertanyaannya, apakah absurditas hidup memaksa manusia untuk menghindarinya melalui harapan atau bunuh diri? apakah yang absurd menuntut kematian? Albert Camus memilah permasalahan itu di atas masalah-masalah yang lain, mencoba keluar dari metode pemikiran dan permainan akal budi yang tak berpamrih. Nuansa-nuansa, kontradiksi-kontradiksi, psikologi yang selalu saja dapat digunakan oleh budi “objektif” untuk memecahkan semua masalah tidak mempunyai tempat dalam pencarian dan gairah ini. Yang dibutuhkan hanyalah pemikiran tak adil, artinya pemikiran logis. Itu tidak mudah. Bersikap logis selalu mudah, namun nyaris tidak mungkin bersikap logis sampai akhir. Mereka yang mati bunuh diri, meniti sampai akhir lereng perasaannya dengan berbuat seperti itu.
Apa yang dilakukan Lupo terhadap keluarga dan dirinya adalah logis menurut pandangannya. Bahwa hidup adalah sebuah kesia-siaan. Pemecatan dirinya dan istrinya adalah suatu akumulasi perasaannya yang sebelumnya telah dilanda badai permasalahan. Masalah ekonomi tentu tidak mutlak dijadikan alasan pengambilan keputusan yang dianggap logis itu. Mungkin, mengakhiri hidup adalah kenikmatan dari hidup yang penuh dengan ketragisan.
Polisi tidak datang terlambat. Tapi maut datang begitu cepat. Maut yang seketika melebihi rofes yang sedemikian rupa rofessional diciptakan manusia. Tanpa ada kompromi. Dan Tuhan pun hanya menjadi saksi dari pilihan itu. Saya pikir, Tuhan tentu sedih melihat kejadian itu. Tetapi itu sudah menjadi perjanjian manusia denganNya ketika manusia itu memilih untuk memakan buah dari kebenaran. Maka, manusia itu akan mati. Dan pilihan itu adalah mutlak hak manusia itu sendiri untuk menentukan hidup atau mati. Dari sanalah absurditas itu berperan.

Jambi, 3 Februari 2009
*Penulis pemerhati masalah sosial dan bekerja di Kantor Bahasa Prov. Jambi


[+/-] Selengkapnya...

Golput: Nihilisme di Zaman Malaise (catatan kecil untuk parpol dan caleg)

Oleh: Ricky Manik*

Atribut partai ada di mana-mana. Wajah para caleg saling mengisi dengan melempar senyum penuh ambisi di setiap jalan protokol. Tak lupa terselip janji sebagai propaganda politiknya. Mereka berlomba memperkenalkan diri. Memanfaatkan setiap ruang dan celah untuk menghadirkan eksistensi diri kepada ruang publik. Buat caleg yang mempunyai dana yang besar memiliki peluang lebih dalam mempromosikan diri dibandingkan dengan caleg yang hanya memenuhi quota partai. Demokrasi telah memberi kebebasan hak setiap orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin.
Pertaruhan politik sudah dimulai. Tahun 2009 merupakan puncak pesta demokrasi itu. Tiap parpol mulai menyusun strategi kampanyenya. Beberapa parpol telah mengiklankan partai dan calon presidennya diberbagai media. Permasalahan sosial menjadi alasan utama yang dimunculkan dalam propaganda politik parpol. Semua dalam satu tujuan, yaitu mendapatkan simpatik dari masyarakat dan memperoleh suara terbanyak. Wajar kemudian parpol merasa khawatir bila masyarakat banyak tidak menggunakan hak suaranya atau golongon putih (golput). Kekhawatiran itu menjadi beralasan ketika ada desakan yang aneh untuk MUI memutuskan fatwa haram untuk golput. Seolah-olah persoalan haram dan halal bukan lagi otoritas Yang Kuasa. Keanehan ini jelas menimbulkan kontra di masyarakat.
Ada tiga alasan yang menyebabkan munculnya golput, pertama disebabkan faktor administrasi, yaitu tidak terdaftar, tidak memiliki KTP atau sedang berada pada bukan daerah pilih. Kedua, disebabkan karena faktor kondisional, yaitu pada saat pemilihan berlangsung, si pemilih sedang ke luar karena ada urusan accidental. Dan yang ketiga disebabkan karena faktor ideologis, yaitu disebabkan karena ketidakpercayaan lagi terhadap partai politik yang ada. Persoalan yang ketiga inilah yang bisa kita cermati, persoalan dimana ketidakpercayaan itu muncul. Bagaimana tidak, ketika harapan itu telah digantungkan tetapi selalu kandas oleh berbagai kepentingan dan hasrat yang tak pernah terpuaskan itu menjadi cikal kepercayaan itu hilang. Bukan tidak mungkin setiap pemilu jumlah golput itu akan semakin bertambah. Ironis memang. Tapi hal ini adalah suatu kewajaran karena ia menjadi bagian dari pendewasaan demokrasi. Paling tidak, ini menjadi pekerjaan rumah (PR) buat parpol dan caleg untuk meningkatkan kualitas diri dan parpolnya dalam melakukan kampanye politik. Jangan ada janji yang nanti berbuah kebohongan. Berangkatlah dari apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh rakyat. Pelajari dengan baik dan susun strategi rencana kerjanya. Bekerjalah dengan jujur dan tanpa pamrih. Jepang dan Amerika Serikat dapat dijadikan contoh sebagai motivasi kebangkitan bangsa ini karena kedua negara itu pernah dilanda masa-masa yang sulit, sebuah zaman yang dinamakan malaise.
***
Jepang sepertinya sadar telah membangunkan harimau tidur ketika melakukan misi harakiri dalam serangan subuh Pearl Harbour. Penyerangan itu justru menghentikan arogansi kekuasaan Jepang yang memang pada saat itu memiliki kekuatan militer yang besar. Nagasaki dan Hiroshima adalah konsekuensi dari sebuah keangkuhan itu. Keangkuhan yang memberi prediket Negara itu menjadi Negara yang satu-satunya pernah merasakan the ultimate casualities of war. Akan tetapi, kekalahan dalam Perang Dunia II itu menjadi titik balik untuk bangkit dari keterpurukan – perlahan tapi pasti. Hingga kini, ia telah menjelma menjadi raksasa ekonomi yang kuat. Pada krisis global yang melanda Amerika Serikat saat ini hanya Jepang yang mata uangnya menguat terhadap dolar AS.
Sejarah itu berulang. Krisis global yang melanda Amerika Serikat (AS) bukan terjadi pada saat ini saja. Negara ini pernah merasakan bencana ekonomi global yang disebut The Great Depression di tahun 1930-an. Pada saat itu inflasi membumbung tinggi, sistem perekonomian porakporanda, perbankan amblas, angka pengangguran bertambah dan dapat membuat orang menjadi gila, dan keputus-asaan menyebar luas.
Amerika Serikat disaat dilanda krisis keuangan telah menyelenggarakan pemilihan presiden yang baru. Obama dinyatakan menang atas kandidat presiden lainnya Jhon Mc Chain. Di tengah goncangan krisis keuangan, kehadiran Obama yang dianggap sebagai simbol kebebasan, yang meruntuhkan stigma politik rasisme selama 230 tahun di AS itu telah menjadi titik terang dalam permasalahan yang dihadapi AS saat ini. Pada pidatonya setelah kemenangan pada hasil pemungutan suara dari lawan politiknya John Mc Chain mengingatkan kita pada sosok pemimpin Amerika Serikat yang telah membawa bangsanya keluar dari bencana ekonomi. AS beruntung pada waktu itu memiliki Franklin Delano Roosevelt. Salah satu dari rencana kerja yang akan diterapkan Obama dalam pidatonya adalah memaksimalkan dalam pembangunan infrastruktur.
Roosevelt hadir dengan program The New Deal. Masa itu, ia seperti sadar betul bahwa berjuang untuk keluar dari krisis membutuhkan bukan sekadar nama, tetapi berusaha dengan keras supaya The New Deal benar-benar menjadi program nyata yang dapat memulihkan nasib bangsa AS.
Roosevelt yang layaknya Obama juga memiliki sejarahnya sendiri. Ia merupakan presiden AS yang satu-satunya terpilih tiga kali periode jabatan. Ia dengan yakin berdiri tegak di dalam badai untuk menyukseskan delapan langkah kebijakan barunya itu. Pertama, mengajak, memberikan motivasi, dan membangun kepercayaan diri rakyat AS untuk bersama-sama mengatasi kesulitan bangsa sebab menurutnya yang dapat menyelesaikan persoalan bangsa AS adalah AS sendiri, bukan bangsa lain; kedua, melakukan penghematan besar-besaran: para anggota kabinet diwajibkan menggunakan mobil bekas, penerangan lampu jalan dikurangi, dan sebagainya; ketiga, membangun kemandirian (swasembada) pangan dengan cara meningkatkan, melindungi, dan menaikkan harga-harga produk pertanian; keempat, meningkatkan kredit pemilikan rumah dan intensif bagi investasi swasta pada air minum dan listrik; kelima, membangun infrastruktur darat, laut, dan udara secara besar-besaran yang pada saat bersamaan berhasil menciptakan kesempatan kerja sekaligus mengurangi pengangguran; keenam, menegakkan supremasi hukum; ketujuh, meningkatkan daya beli masyarakat dengan cara menaikkan gaji pegawai dan member harga yang patut pada produk pertanian; dan kedelapan, menciptakan rasa aman dan terlindungi bagi setiap warga AS dengan membasmi premanisme.
The New Deal sangat rasional di mata warga Negara AS waktu itu. Mereka memberi dukungan penuh kepada kebijakan pemerintah mereka. Tiga tahun setelah The New Deal diluncurkan, AS yang semula merupakan negara pengimpor jagung terbesar (dari Meksiko) dan gandum (dari Kanada) berubah menjadi negara dengan surplus pangan terbesar. Sementara itu, aktivitas masyarakat di sektor riil yang ditarik oleh lokomotif kebijakan pembangunan berbagai infrastruktur membuat daya beli masyarakat naik dan pegangguran berkurang.
Bukan tidak mungkin suatu pikiran tentang nihilisme juga menjadi godaan besar bagi masyarakat AS di zaman malaise itu. Akan tetapi seorang pemimpin dengan tegas (Roosevelt) dan program yang jelas (The New Deal) telah berhasil membawa masyarakat AS bersama-sama berjuang untuk keluar dari lembah depresi. Sekarang, AS telah menggantungkan harap itu dipundak Barack Obama. Dan Indonesia, kepada siapa kita akan menggantungkan harap itu?
***
Seorang anak muda berdiri dan berbicara dengan lantang di tengah kerumunan orang: “Aku tidak percaya pada otokrasi Tsar! Tidak juga kepada mesin birokrasi yang menggiring Negara kita pada kematian. Aku juga tidak percaya pada gerakan Narodnik yang menyuruh anggota-anggotanya melebur bersama rakyat, menarik mereka pada komunisme supaya para petani dan buruh bersatu untuk membentuk Negara baru. Aku tidak percaya apa pun!” Menghela nafas, lalu berkata: “Aku seorang nihilis.”
“Bravo, Sergeyevich!” Seorang di sudut ruangan berteriak kepadanya, “Tuhan memberkati Anda, kawanku, Anda telah mengucapkan kata keramat yang akan hidup lama dalam bahasa Rusia. Sejak saat ini, kita, para pejuang kebebasan, akan disebut sebagai kaum nihilis.”
Jambi, 30 Desember 2009
*Pelaku dan penikmat seni, sastra, dan budaya yang tinggal di Jambi, saat ini bekerja sebagai tenaga teknis di Kantor Bahasa Prov. Jambi


[+/-] Selengkapnya...

CEO PT. Shell Indonesia: An Inspiring Story

"I OWE THIS TO YOU". Kalimat ini ingin sekali diutarakan Darwin Silalahi kepada Gess Laving. Gess adalah salah seorang petinggi British Petroleum (kini sudah berubah menjadi Beyond) Indonesia periode 1987-1990. Bagi Darwin, mantan atasannya itu berkontribusi besar dalam mengubah jalan hidup, termasuk meretas pencapaian karirnya saat ini.

Darwin sekarang adalah Chief Executive Officer (CEO) PT Shell Indonesia. Ia pribumi pertama yang memuncaki jabatan perusahaan yang berkantor pusat di Belanda itu. Bergabung sejak April lalu, Juni ini ia diangkat menggantikan Bob Moran, CEO Shell Indonesia sebelumnya. Sebuah prestasi luar biasa.

Utang budi Darwin di masa lalu tak ada hubungannya dengan materi, apalagi jabatan. Ia hanya merasa Gess telah menemukan potensi lain dalam dirinya. Ya, di BP 20 tahun silam itu, Darwin hanyalah seorang geophysicist. Ia masih staf biasa, sebelum akhirnya dikirim perusahaan melanjutkan studi S2 di University of Houston.

Studi ini menjadi titik balik kehidupannya. Ia yang berlatar belakang fisika, lulus S1 dari Fisika UI tahun 1985, dan berkarir sebagai geofisika, malah diminta belajar manajemen. "Di situlah kehebatan Gess," kenangnya. Dan tak sebatas itu. Ia masih ingat benar motivasi Gess agar dirinya tidak takut keluar dari comfort zone-nya (bidang fisika) selama ini.

Mulanya, Darwin menolak. Bukan karena tak tertarik dengan bidang yang akan dipelajari, tapi berkaitan dengan kemampuannya. Ia kurang percaya diri. Betapa tidak, atasannya langsung, Dave Taylor, yang pernah mengenyam pendidikan serupa berakhir kurang memuaskan. Di BP, saat itu, siapa pun tahu Dave adalah karyawan paling berbakat dan potensial.

Gess hanya membesarkan hatinya. "Kalau kamu tidak berhasil dalam program ini, kamu juga ingat, Dave pernah gagal," kata Gess, seperti ditirukan Darwin. Momen itu tak akan terlupakan. Yang terus dipikirkannya, bagaimana seorang atasan bisa percaya dengan pemula seperti dirinya, sementara karyawannya yang paling berbakat pernah gagal.

Sejak itu, ia mulai nyandu dengan ilmu manajemen. Nah, bicara soal gaya memimpin, inspirasi tak hanya datang dari Gess. Ia juga mengaku sangat terkesima dengan keberhasilan Robby Djohan. Menurutnya, ketika masih di Bank Niaga, bankir kondang itu sukses mencetak eksekutif berkualitas. "Saya ingin Shell seperti Bank Niaga. Saya merasakan betul bagaimana hal itu pernah terjadi pada saya ketika masih bekerja di BP," katanya.

Soal mencetak eksekutif ini, sebenarnya ia cuma bicara tentang obsesi. Pekerjaan utamanya di Shell tetap saja satu: bagaimana menjadikan perusahaan migas multinasional ini jadi yang terbaik di sektor hilir, alias mampu mengalahkan dominasi Pertamina dalam waktu dekat, memang tidak mungkin. Tapi, paling tidak menjadi yang terkuat nomor 2.

Bagi Shell, Indonesia adalah pasar yang strategis. Deregulasi sektor hilir migas membuat pasar BBM dalam negeri makin seksi. Perubahan itu, memungkinkan swasta lain di luar Pertamina bisa berkompetisi secara sehat. "Ke depan kami juga sedang menjajaki kemungkinan ikut mendistribusikan BBM bersubsidi (premium)," katanya.

Dan nyatanya, Indonesia memang pangsa yang gemuk. "Masih under pomp. Rasio jumlah pompa bensin tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk Indonesia yang sangat padat," terang Darwin. Di Malaysia, ia menambahkan, kami menjadi nomor dua setelah Petronas. Untuk diketahui, di Malaysia yang penduduknya hanya 20 juta, Shell memiliki 900 SPBU.

Di Indonesia jumlah SPBU itu baru 10 buah. Kesepuluh SPBU itu telah memasarkan produk BBM kelas atas, atau nonsubsidi, seperti RON (research octane number) 92 (sekelas Pertamax) dan RON 95 (sekelas Pertamax Plus). Untuk menggenjot volume, kata Darwin, Shell berencana ikut masuk di kelas Ron 88 (sekelas premium). Tapi, ya itu tadi, mereka masih bersikap wait and see hingga ada kejelasan baru soal aturan main di bisnis hilir. Inilah sisi kritis itu. Agar optimal, Shell tidak bisa tidak mesti mengusahakan country chairman diduduki orang lokal.

Darwin lahir dan besar di Balige, Sumatra Utara. Ayahnya memiliki 2 istri. "Ibu dinikahi ketika masih berusia 18 tahun, sementara ayah 65 tahun," tuturnya. Ia memiliki 7 saudara kandung, dan tiga saudara tiri. Latar kehidupan keluarga besar ini terbilang biasa saja. Ekonomi keluarga ditopang dari kegiatan SPBU. Jangan membayangkan seperti di kota besar, di Balige, bisnis menjual BBM termasuk skala usaha kecil. "Saya pernah bekerja di sana sebagai tukang engkol (alat pemutar) mesin SPBU manual," katanya.

Dan Balige ternyata terlalu sempit untuk aktualisasi diri. Menginjak kelas dua SMU, ia pun merantau ke Jakarta. "Saya tinggal dengan saudara," katanya. Di belantara Ibu Kota, kehidupan malah terasa lebih berat. "Saya biasa tidak punya uang jajan. Kalau haus, saya tinggal pergi ke penjual minuman, minta es batu," kenang alumni SMA 70 Jakarta ini.

Di tengah himpitan ekonomi, nyatanya ia tetap mampu mencetak prestasi. Penggemar pelajaran matematika dan fisika ini lulus dengan amat memuaskan. Ia memperoleh nilai matematika 10. "Harusnya, angka sempurna itu milik Tuhan," tutur Darwin, tentang gunjingan para gurunya kala itu.

Ia kemudian diterima di Universitas Indonesia. Di kampus pelat merah ini beban hidupnya tak sedikit pun berkurang. Malah semakin limbung ketika datang kabar dari kampung. "SPBU milik keluarga harus tutup. Biaya operasional sudah tidak sebanding dengan pendapatan," ujarnya. Selain biaya kuliah, bebannya kini bertambah: ia juga harus berkontribusi terhadap kelangsungan keluarga besarnya. Tapi, Darwin bukan tipe orang yang mudah putus asa. Untuk meringankan beban, ia bekerja paruh waktu sebagai guru bimbingan belajar dan privat.

Hasilnya memang lumayan. Tapi, itu belum cukup untuk memperbaiki kualitas hidupnya. "Saya cuma makan tempe dan kuah sop. Kalau Pak Kumis lagi baik, saya suka diberi suwiran daging, untuk perbaikan gizi," katanya terbahak. Pak Kumis yang diceritakan ini adalah seorang pemilik warung makan di depan UI Salemba.

Roda hidupnya mulai berputar ketika ia lulus kuliah pada 1985. Ia mulai diterima bekerja di British Petroleum Indonesia. Karir profesionalnya mulai menanjak ketika dikirim belajar ke Amerika. Selama studi, ia dititipkan di BP Exploration Houston. Tiga tahun berselang (1994) ia kembali ke Indonesia. Kepulangannya menandai akhir kemesraannya dengan BP.

Keluar dari BP, Darwin bergabung dengan Dharmala Group. Di perusahaan ini ia beberapa kali menjabat sebagai senior executive, hingga mencapai posisi puncak sebagai Direktur Corporate Planning and Development. Pada 1997 ia dibajak Bakrie and Brothers. Di konglomerasi milik keluarga Aburizal Bakrie ini ia ditunjuk sebagai Group Chief Operating Officer (COO). "Ini fase yang paling mendebarkan. Ketika itu usia saya baru 36 tahun, terlalu muda dan minim pengalaman," katanya.

Di Grup Bakrie ia tak lama. Pada 1998 Darwin mengambil keputusan paling dramatis: berkarir di birokrasi. Ia menjadi Direktur Jenderal Kementerian BUMN-RI yang bertanggung jawab melakukan restrukturisasi dan privatisasi 14 BUMN yang bergerak di sektor komunikasi, transportasi, dan utilitas publik. Pada 2000, ia kembali ke swasta. Ia diangkat menjadi CEO Booz Allen Hamilton Indonesia.

Pada April 2007, Darwin bergabung dengan Shell. Tepat 2 bulan kemudian, tukang engkol sebuah SPBU di Balige itu, akhirnya menahkodai Shell Indonesia. Ini menjadi puncak sekaligus akhir dari karirnya di ranah profesional. "Pensiun dari sini, saya hanya ingin mengajar," katanya.
_,_._,___

New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.


[+/-] Selengkapnya...

Cinta Itu Memiliki Kekuatan Yang Luar Biasa


Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia.
Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.

Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya
(hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya. 50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin ....



Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak....

Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua.....Untuk menghindari gosip murahan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka. Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan is berulang-kali bertanya,"Apakah kau menyesal?" Liu selalu menjawab, "Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik". Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun. Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara(adventurers) melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, "Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya.

"Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?"
Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya. Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan "anak tangga cinta" itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus.

[+/-] Selengkapnya...

Rudi Habibie dan Rudi Chaerudin, Sukses Mana?

Paradigma kita tentang pendidikan acapkali salah. Kita menganggap bahwa orang yang sekolah mendapat jurusan IPA itu lebih pintar dibandingkan jurusan Bahasa. Seolah-olah yang mendapatkan jurusan IPA itu yang nantinya akan berhasil. Pandangan sebelah mata seringkali ditujukan kepada anak IPS dan Bahasa dengan stigma yang "tidak pintar" dan "nakal". Nah, lebih lanjut, ini ada kiriman pos-el ke saya yang menuliskan tentang pengalaman seseorang yang tidak disebutkan namanya tentang paradigma kita yang acap salah terhadap jurusan yang dipilih dalam menentukan masa depan yang sukses.

Begini cerita orang itu:

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta
terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa. Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangunwijaya (Alm) tentang kurikulum sekolah, Beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli komputer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini, masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol. Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bidang kecantikan dan punya banyak salon kecantikan di beberapa kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan "Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya. Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga). Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis.
Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang
ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat.
***

Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa
menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.
***

Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia)dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

[+/-] Selengkapnya...

Krisis Global: Semua dalam Posisi Memegang Benang

Setelah membaca dan mendengar berita di televisi tentang keruntuhan raksasa keuangan seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, Merril Lynch, dan nama-nama indeks bursa seperti Dow Jones, Nasdaq, Nikkei, saya yang notabene bukan berlatar pendidikan ekonomi hanya bisa bingung. Mengapa bisa krisis, tentu itu pertanyaan sederhananya. Saya yang awam ini membayangkan apakah keuangan Negara ini sama halnya dengan keuangan diri kita sendiri. Artinya penyebab kita mengalami kehabisan uang adalah karena pengelolaan keuangan yang tidak teratur, karena boros dalam penggunaannya. Tapi saya pikir itu bukan jawaban yang mutlak dari persoalan tersebut. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Nah, dari sekian berita yang berbicara mengenai krisis global ini, ada tanggapan dari Dahlan Iskan yang saya pikir menarik untuk kita baca dan ketahui. Yang intinya kita (bangsa) harus siap dalam keadaan apapun. Jepang mungkin dapat dijadikan contoh mengatasi dan kesiapannya terhadap keadaan krisis keuangan global seperti sekarang ini. Tulisan ini saya peroleh via pos-el, jadi saya kopi aja langsung ke postingan.
Dahlan Iskan : Semua dalam Posisi Memegang Benang
Terlalu banyak pertanyaan seperti ini: Di saat Amerika Serikat dilanda krisis yang hebat seperti ini, mengapa dolarnya justru menguat? Mengapa harga emas justru merosot? Bukankah dalam suasana krisis mestinya harga emas naik?
Jawabnya tidak tunggal, tapi yang utama hanya satu: terlalu banyak orang di banyak negara yang membutuhkan dolar AS. Lembaga-lembaga keuangan raksasa yang dulu selalu meminjamkan uang dalam dolar AS, sekarang memerlukan dolar sebanyak yang bisa ditarik. Kalau dulu dolar mengalir dari AS ke seluruh dunia, kini semua dolar harus mengalir balik ke AS untuk menutup lubang menganga yang sangat besar akibat krisis itu.


Masih ada tambahan lagi: di AS banyak perusahaan atau aset yang dijual dengan harga murah. Akibatnya, orang kaya dari seluruh dunia juga banyak yang tergiur untuk membeli aset itu. Tentu mereka membutuhkan dolar AS. Perusahaan (saham) AS yang di luar negeri juga banyak yang dijual.
Pembelinya juga perlu dolar. Perusahaan-perusahaan yang punya pinjaman dolar diminta membayar sebelum jatuh tempo. Kalau tidak bisa bayar, perusahaan itu disita untuk dijual. Juga pakai dolar. Apakah bisa menarik kredit sebelum jatuh tempo? Bisa! Baca akad kreditnya. Pasti menyebutkan klausul seperti itu.
Satu-satunya negara yang mata uangnya justru menguat terhadap dolar AS hanyalah Jepang. Ini karena fondasi ekonomi Jepang sangat kukuh. Uang cash-nya amat banyak dan dalam posisi aman. Bank-banknya punya sumber dana yang amat murah dan berjangka panjang. Penabung di Jepang hanya mendapat bunga 0,5% setahun.
Sebagai negara yang maju berkat dibantu AS (setelah kalah perang dunia dulu), semestinya Jepang kini harus membantu AS. Jepang punya kemampuan untuk itu. Cadangan devisanya nyaris USD 1 triliun! (USD 950 miliar). Dana pensiunnya, lebih gila lagi: USD 1,5 triliun. Kekayaan sejumlah orang berduit di sana mencapai USD 15 triliun. Dana deposito di bank mencapai USD 8 triliun.
Para ahli menyebutkan, dengan kemampuan itu Jepang bisa banyak berbuat. Toh , Jepang tidak mau melakukannya. Jepang harus memikirkan keselamatan negaranya dulu. Padahal, Jepang adalah kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia setelah AS. Padahal, Jepang tidak akan bisa seperti sekarang kalau dulu tidak dibantu AS. Undang-undang dasar Jepang saja yang membuatkan McArthur! Toh, dalam keadaan krisis seperti ini keselamatan diri sendiri dulu yang diutamakan.
Maka, jangan harap kalau Indonesia nanti terkena krisis, ada negara lain yang mau membantu. Kini, semua negara menyelamatkan diri masing-masing. Tidak akan ada balas jasa sekalipun. Karena itu, mumpung krisis yang berat belum mengenai kita, Indonesia harus memupuk terus kemampuan keuangannya. Rencana menurunkan harga BBM benar-benar harus dihitung dulu kapan saatnya yang paling tepat.
Sebenarnya krisis yang terjadi di AS menjadi lebih gawat, antara lain, juga karena hilangnya rasa percaya diri. Rasa konfiden itu mudah hilang kalau kita tidak punya cukup uang. Kian besar dana yang dimiliki negara, kian besar konfiden itu. Penyelenggara negara saat ini tidak boleh kehilangan konfiden hanya karena tekanan politik.
Sebenarnya bukan tidak ada keinginan Jepang untuk membantu AS. Seorang tokoh politik di sana, Kotaro Tamura, bahkan sampai jengkel karena inisiatifnya untuk membantu AS tidak mendapat hambatan di dalam negeri. Tamura, seorang invesment banking yang kini menjadi anggota DPR dan mengetuai satu faksi dalam partai pemerintah, berpendapat, mestinya Jepang bisa menggunakan uang cash-nya yang begitu banyak untuk ikut menyembuhkan ekonomi dunia.
"Ini sebenarnya kesempatan besar bagi Jepang," kata Tamura seperti dikutip media seluruh dunia. “Sekarang ini, di AS, semuanya murah. Seharusnya kita menggunakan dana kita untuk membeli semua itu," katanya. Dengan cara itu, kata Tamura, Jepang bisa memberikan sinyal yang baik bagi pulihnya ekonomi dunia. Apalagi, bantuan itu toh bukan pinjaman yang berisiko. Bantuan itu berupa kesediaan membeli aset-aset yang lagi dijual di AS.
Beberapa perusahaan Jepang memang sudah membeli aset tersebut. Mitsubishi membeli sebagian saham Morgan Stanley sebesar USD 9 miliar, membeli Union BanCal di San Fransisco sebesar USD 3,5 miliar, dan membeli Aberdeen Asset Management sebesar USD 190 juta. Tapi, itu dianggap belum ada artinya. Kalau Jepang bisa membeli sebanyak mungkin aset murah di AS, kata Tamura, dalam 10 tahun mendatang Jepang akan menikmati hasilnya: hasil ekonomi dan hasil politik. Toh seruan Tamura itu tidak ada yang menggubris. Tamura yang baru 45 tahun dan yang dikenal suka berpakaian elegan (jarang politisi Jepang yang berani memakai pakaian yang mahal seperti dia) menjadi sangat ketus.
Bahkan, proposalnya agar Jepang membuat perusahaan negara seperti Temasek di Singapura juga ditolak. Padahal, selama ini dana-dana di Jepang itu hanya menghasilkan bunga yang sangat rendah: 0,5% setahun! Kalau dana itu diakumulasikan ke dalam satu usaha seperti Temasek, hasilnya bisa
sampai 18% setahun. Jepang memang bangsa yang paling hati-hati terhadap sesuatu yang berisiko. Tingkatnya bukan lagi sekadar hati-hati, melainkan sudah "benci pada risiko". "Bahkan, risiko baik sekali pun," ujar Tamura. Mana ada orang yang memilih dapat bunga 0,5% daripada 18%. "Orang Jepang itu tidak tahu apa artinya laba," kata Tamura.
Tapi, itulah memang Jepang. Mereka menilai bunga 0,5% tapi aman lebih baik daripada "bunga 18%" tapi ada risikonya. Kita memang kagum dengan langkah seperti Temasek, tapi kini kita juga perlu bertanya berapa kerugian Temasek akibat krisis ini. Demikian juga investasi Tiongkok di Blackstone yang mencapai USD 250 miliar dua tahun lalu, kira-kira juga sudah hilang setidaknya separonya. Ini berarti ada uang Rp 1.200 triliun yang tiba-tiba lenyap. Uang yang hilang sekejap itu sudah sama dengan seluruh APBN Indonesia!
Bagaimana dengan sikap Tiongkok? Kita belum pernah mendengar inisiatif Tiongkok untuk menggunakan cadangan devisa terbesarnya di dunia itu untuk ikut menyelamatkan Amerika. Tiongkok pasti ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu. Rakyatnya begitu banyak. Pabriknya yang harus tutup
jumlahnya bukan hanya ribuan. Tiongkok pasti akan menggunakan cadangan devisa, pertama-tama untuk dirinya sendiri. Apalagi Tiongkok pasti tahu bahwa meski terkena krisis, Amerika masihlah negara kaya. Saya sering menyebutkan dengan krisis ini status Amerika hanya turun dari "negara yang kaya raya "menjadi" negara yang kaya sekali". Kapitalisasi pasar modalnya masih lebih besar dibanding Jepang,
Korea, Jerman, Tiongkok, Prancis, Inggris, dan Australia dijadikan satu! Kekuatan ekonomi Tiongkok yang sudah kita puji-puji itu baru sebesar ekonomi satu negara bagian California.
Ibarat layang-layang, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini masih dalam status terbang. Baru satu-dua yang oleng kehilangan angin. Tapi, semua pemilik perusahaan kini harus terus dalam posisi memegang benang sambil mata tetap terus mengawasi layang-layang masing-masing. Begitu kehilangan
angin harus tahu apa yang harus dilakukan: tarik benangnya. Lengah sedikit, layang-layang itu bisa langsung nyungsep ke tanah. Mata tidak boleh berkedip. Jangan sampai, misalnya, ditinggal ke toilet sekalipun. Banyak yang mungkin menganggap ini berlebihan. Tapi, siapa yang beranggapan demikian, layang-layangnyalah yang akan nyungsep lebih dulu. (*)

Terakhir, saya hanya beranggapan bahwa persoalan ini hanyalah disebabkan oleh yang namanya kerakusan dan ketidakjujuran. Inilah kejahatan besar yang teramat sulit untuk diberantas, kejahatan yang tersembunyi, yang selalu memiliki potensi yang besar untuk terjadi, karena ia hanya dimiliki oleh kesadaran subjek (pelaku) itu sendiri. Lantas, bagaimana kita bisa menaklukkan kejahatan itu?

[+/-] Selengkapnya...