My Great Web page

Legitimasi Sastra: Perspektif Bourdieuian (Fenomena Terbitnya Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”)

Oleh: Ricky A. Manik Di mana tempat terjadinya pergulatan sastra? Koran, majalah, media massa lainnya, atau penerbitan (karya yang ditebitkan seperti buku)? Apakah seseorang yang karyanya terbit di media massa sudah dilegitimasi sebagai sastrawan? Atau seseorang yang karyanya telah diterbitkan menjadi buku juga disebut sebagai penyair, sastrawan, kritikus sastra, atau dramawan? Apa standar dan kriteria tertentu yang dapat melegitimasi identitas seseorang (sastrawan)? Jika identitas itu memiliki standar dan kriteria tertentu, Lacan seorang filsuf psikoanalisis Perancis tentu akan menjawabnya “Is never enough!” Standar dan kriteria itu tidak akan pernah muat untuk melegitimasi identitas itu. Ia akan selalu tergelincir (slip) dan meninggalkan celah/lobang di dalam identitas tersebut. Akan tetapi, dalam esai ini saya tidak melihatnya dari perspektif Lacanian karena saya sedang tidak ingin menemukan motivasi pengarang untuk memilik identitas dirinya sebagai sastrawan. Dalam hal ini saya akan melihatnya melalui perspektif sosiologis Pierre Bourdieu saja karena dalam perspektif ini legitimasi sastra lebih mempersoalkan pada ranah pertarungan untuk mendapatkan legitimasi dominannya di tengah masyarakat. Beberapa hari belakangan sampai hari ini pun dunia sastra kita masih dihebohkan dengan penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” terutama di media-media sosial. Pemilihan 33 tokoh ini dilegitimasi oleh tim yang terdiri dari kritikus, sastrawan, akademisi, dan pengamat sastra ini seolah memiliki kegelisahan bersama tentang peran sastra yang terabaikan dalam membangun peradaban bangsa. Dengan melegitimasi 33 tokoh ini, mereka (baca: Tim 8) mengira telah melakukan langkah awal penyelamatan dunia (ranah) sastra dari kelupaan/kealpaan dalam memberi pengaruhnya terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Dari hasil pemilihan tokoh sastra oleh Tim 8 ini yang kemudian menjadi kontroversi dan polemik adalah kemunculan nama Denny JA yang dianggap sebagai tokoh sastra yang berpengaruh di Indonesia. Nama Denny JA dianggap layak bersanding dengan tokoh-tokoh sekelas Pramoedya, Hamka, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Rendra, Iwan Simatupang, dan lain sebagainya karena (dianggap) memperkenalkan genre baru puisi-esai. Melalui genre sastra puisi-esai ini, ia menerima rekor MURI karena pertama membawa sastra ke era sosial media. Tapi dalam hal ini saya tidak akan membahas alasan-alasan apa yan membuat Tim 8 ini memilih sosok Denny JA yang lebih dikenal sebagai seorang enterpreneurship dan konsultan politik dengan mendirikan beberapa lembaga seperti LSI (Lingkaran Survey Indonesia). Saya juga tak menguji kebenaran-kebenaran alasan yang diusung oleh Tim 8 ini sebab apapun alasan, kriteria, dan standard pemilihan itu akan ada kebolongan dan kekurangannya. Saya hanya ingin mencoba melihat persoalan ini hanya dari perspektif Bourdieuian, yakni mencoba melihat bagaimana agen sosial ini bertaruh dalam ranah memperebutkan eksistensi dirinya dengan berbagai modal yang dimilikinya terutama sosok Denny JA yang kemunculan namanya menjadi perbincangan hangat saat ini. Sebelum melihat persoalan buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh ini, mari kita berkenalan dulu dengan perspektif Bourdieuian. Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Perancis yang mencoba memahami struktur sosial masyarakat baik perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Dalam analisis sosiologisnya, Bourdieu membagi beberapa konsep di dalamnya, salah satunya apa yang di awal esai ini disebutkan, yaitu tentang pergulatan, yang disebutnya sebagai arena (field). Bourdieu menyebut arena sebagai suatu jaringan atau konfigurasi dari relasi-relasi objektif antara posisi yang secara objektif didefenisikan, dalam eksistensi mereka dan determinasi yang mereka terapkan pada penganut, manusia atau institusi mereka... dalam struktur distribusi kekuasaan (modal) yang penguasaannya mengarahkan akses kepada keuntungan spesifik yang dipertaruhkan di arena, maupun oleh relasi objektif mereka dengan posisi lain. Bagi Bourdieu, arena sastra adalah ruang pergulatan agen-agen dengan masing-masing posisi yang menempati arena tersebut. Agen-agen seperti seniman, kritikus, wartawan, dosen, mahasiswa, penerbit, editor yang terlibat di dalam arena tersebut memiliki posisi dan fungsi yang berbeda. Hasil produksi dari agen-agen sastra ini adalah ajang kontestasi untuk mendapatkan apa yang disebut oleh Bourdieu sebagai legitimasi sastra. Untuk mendapatkan legitimasi di dalam arena sastra tersebut, agen-agen menerapkan strategi-strategi tertentu demi meraih posisi dan modal-modal yang dibutuhkan. Konsep arena adalah persaingan perebutan posisi-posisi tertentu sehingga struktur sosial adalah sesuatu yang dinamis yang mana seorang agen bisa berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Strategi-strategi ini dapat kita lihat pada sosok Denny JA. Diakuinya sendiri bahwa dirinya adalah seorang “pejalan budaya” seperti yang terdapat di dalam tulisannya yang berjudul Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh. “Saya lebih menganggap diri saya sebagai seorang “pejalan budaya.” Tak pernah menetap dan menjadi tuan rumah di satu wiayah budaya. Saya hanya datang berkunjung, belajar sesuatu di sana dan juga menyumbangkan sesuatu. Kini yang saya kunjungi adalah wilayah sastra. Saya belajar banyak dari sastra dan berikhtiar meninggalkan sesuatu juga di dunia sastra itu. Di era ini yang saya sumbangkan adalah puisi esai... Pada waktunya mungkin saya pergi lagi dari wilayah sastra, masuk ke wilayah lain. Mungkin saya akan berkelana ke wilayah dunia bisnis, dunia politik praktis ataupun dunia spiritual. Dan terus saya berjalan sampai ke liang kubur.” (http://infosastra.com/2014/01/05/menjadi-tokoh-sastra-berpengaruh/) Perjuangan perpindahan posisi seperti yang dilakukan oleh Denny JA pada gilirannya membutuhkan serangkaian tindakan atau praktik yang didasarkan pada, dan dipengaruhi oleh, apa yang dimiliki Denny termasuk sejarah hidupnya, yang karenanya Denny merancang strategi-strategi tertentu. Penulisan puisi esai yang dianggap oleh Tim 8 sebagai genre baru di dalam sastra merupakan strategi Denny dalam kontestasi dirinya untuk meraih sesuatu yang diperebutkan dalam arena tersebut. Selain penulisan puisi esai, Denny juga memperkenalkan gaya penulisan puisi esainya ini dengan mengadakan sayembara penulisan puisi esai dengan hadiah yang cukup besar. Jadi, dengan modal-modal yang dimiliki oleh Denny, maka ia dapat mendistribusikan dirinya untuk mendapatkan legitimasi identitas dirinya dalam arena tertentu. Sebab arena itu bersifat cair (bisa berubah dan diubah), bukan sesuatu yang tetap dan konstan, maka strategi Denny memunculkan dan memperkenalkan bentuk puisi esai dianggap membawa suatu pengaruh atau barangkali perubahan (?) dalam ranah kesusastraan Indonesia. Barangkali inilah yang dilihat oleh Tim 8 terhadap sosok Denny JA. Jika penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh adalah atas pembiayaan Denny dan yang rencananya akan diluncurkan disaat ulang tahunnya, maka buku ini juga menjadi bagian dari strategi Denny untuk menempati posisi-posisi agen (sastrawan) yang dominan di dalam arena sastra tersebut. Inilah yang disebut oleh Bourdieu sebagai trajektori agen dalam ruang sosial dan arena yang tidak dapat terlepas dari strategi sebagai cara memposisikan diri sekaligus mendistribusikan modal-modal yang ia miliki. Kita tahu bahwa Denny adalah konsultan politik dan memiliki modal-modal ekonomi yang cukup kuat, jadi bukan perkara yang sulit bagi dirinya untuk mencoba mendapatkan posisi-posisi tertentu atau legitimasi tertentu. Kemunculan nama Denny JA dalam buku tersebut dan kehebohan jagad sastra Indonesia atasnya malah memenangkan strategi Denny untuk mendapatkan legitimasi sastra atas dirinya. Menurut Bourdieu bahwa pertaruhan utama di dalam arena sastra adalah memonopoli legitimasi, yakni dengan memonopoli kekuasaan untuk mengatakan berdasarkan otoritas siapa yang berhak menyebut dirinya sebagai tokoh sastra. Status atau legitimasi kesastrawanan seorang agen yang bertaruh dalam arena tersebut menjadi hal yang krusial karena melalui defenisi itulah seorang agen mendapatkan konsekrasi atau derajat pengakuan yang memberinya peluang untuk meraih posisi tertentu di arena sastra tersebut. Dalam bahasa Bourdieu hal itu disebut sebagai tiket masuk yang sifatnya kurang lebih absolut. Jadi, apa yang dilakukan oleh Denny JA untuk mendapatkan legitimasi tokoh sastra merupakan satu dari berbagai pertanyaan di awal esai ini dan dari beberapa agen-agen sastra yang terus bertaruh guna memenangkan tempat bagi dirinya dalam sebuah arena sastra. Jambi, 11 Januari 2014 *Penulis adalah Peneliti pada Creol Institute, Research and Cultural Relationship Tulisan ini pernah dimuat di harian Jambi Ekspres tgl 12 Januari 2014

[+/-] Selengkapnya...

Hasrat Narsistik Caleg*

Oleh: Ricky A. Manik Menguasai dan berkuasa adalah keinginan yang tanpa sadar ada pada setiap manusia (subjek). Prinsipnya, tak ada seorang pun yang ingin dikuasai oleh yang lain. Bila ia dikuasai oleh yang lain, maka ia akan menguasai yang lain pula. Ini asumsi dasar, mengapa posisi kekuasaan begitu dihasrati, seperti di negeri ini. Berbicara mengenai hasrat, ia adalah laku dari psike manusia. Mengenai laku psike inilah yang tak disadari oleh Lenin ketika menjalankan ideologi komunismenya, sebuah komunisme ideal. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya tidak akan berbicara tentang Lenin dan komunismenya, saya ingin bicara tentang hasrat kekuasaan, di mana saat ini kita sering melihat pertarungan politik dalam memperebutkan kursi kekuasaan di setiap wilayah baik pusat maupun daerah. Bahwa politik kita hari ini hanyalah manuver perebutan kekuasaan semata bukan lagi sebagai upaya bersama untuk kesejahteraan bersama, sebuah kemakmuran. Apa itu hasrat? Hasrat adalah anak tiri dari sejarah filsafat manusia yang mengkultuskan rasio/akal. Hasrat senantiasa didiskriminasi dan dicurigai akan membawa kesesatan pada manusia. Hasrat dianggap makhluk liar yang akan menyebabkan kesesatan berpikir yang berujung pada distorsi epistemologis dan kesesatan bertindak yang bermuara pada distorsi etis. Pemerkosaan, perselingkuhan, perampokan, pembunuhan adalah tindakan-tindakan yang dianggap buah dari hasrat. Oleh karena itu, bagi Freud hasrat mesti ditekan, direpresi, id tak boleh menguasai atau mendominasi ego, bahkan melenyapkan superego. Berbeda dengan Jacques Lacan, seorang psikoanalisis Perancis yang meyakinkan bahwa apa yang menggerakkan kehidupan manusia itu adalah hasratnya. Setiap manusia yang mengidentifikasi dirinya dalam suatu identitas tanpa sadar dibentuk oleh hasratnya. Seorang laki-laki dengan identitas penanda lainnya seperti “baik hati”, “santun”, “bertanggungjawab”, “religius”, “tangguh”, “kuat”, dan lainnya akan menjadi penanda yang diidentifikasikan dan diinkorporasi oleh manusia atau subjek-subjek lainnya. Dengan kata lain, dalam membentuk ego idealnya atau identitasnya, subjek selalu dikonstruksi oleh imajinasinya sendiri. Menarik untuk dicermati bila hasrat akan kekuasaan itu dilihat melalui perspektif psikoanalisis Lacanian ini. Hasrat dalam Psikoanalisis Lacanian Untuk dapat memahami teori hasrat Lacanian, perlu dulu memahami trajektori pembentukan subjek Lacanian ini. Manusia mendapatkan konsep tentang dirinya, oleh Lacan dibagi berdasarkan tiga fase yang memiliki hubungan dengan tiga ranah dalam psikis manusia, pertama dinamakan fase pra-odipal pada tatanan Real (the Real), fase cermin pada tatanan Imajiner (the Imaginer), dan fase odipal pada tatanan Simbolik (the Simbolic). Dalam fase Real, manusia dikatakan berada pada tahap kebutuhan (need) di mana dalam fase Real yang ada hanya kebutuhan. Dalam fase the Real, segala sesuatu terpenuhi, tak ada kekurangan, dan utuh. Bayi sejak masa kandungan hingga dilahirkan berada pada tahap ini. Setiap kebutuhan bayi yang masih infantil dengan tubuh ibu akan selalu terpenuhi. Setelah bayi mengenal ada yang lain (liyan) selain dirinya yang dikatakan Lacan sebagai fase cermin, bayi juga masuk dalam tahap permintaan (demand). Ia meminta sesuatu yang sebenarnya tak diinginkannya yang pada akhirnya membawa dirinya pada perasaan kekurangan (lack). Inilah awal subjek lacanian dengan kekurangan permanen yang dijalaninya sepanjang usianya. Pada fase cermin ini bayi mengenal diri ideal yang dicitrakan melalui cermin. Subjek lacanian akan semakin gegar ketika ia masuk dalam tatanan Simboliknya, yang Lacan sebut sebagai “The Name of Father”. Ayah dalam Lacan adalah ayah simbolik yang memasukkan anak ke dalam dunia simbolik (aturan, norma, hukum, dll). Bayi yang berpenis akan diberi atribut kulturalnya sebagai laki-laki, pun bayi yang tak berpenis. Yang Simbolik membawa manusia pada rentetan kekurangan-kekurangan diri sepanjang hidupnya. Maka dari itu subjek lacanian dikatakan sebagai subjek yang retak, subjek yang terbelah, yang disimbolkan dengan ‘$’. Kerena kekurangan (lackness) inilah manusia selalu ingin kembali (rindu) pada tatanan Real-nya, namun hal itu tak akan pernah terjadi. Akibat dari kerinduan ini, hasrat muncul sebagai garis potong keinginan subjek menuju tatanan Real-nya. Oleh sebab itu, hasrat ada karena adanya kekurangan (lackness). Kekurangan diterima sebagai perasaan diri yang tak lagi utuh. Ibu tak dapat lagi memberi sesuatu yang menjadi permintaan anak. Anak menjadi retak dan keretakan itu menjadi kanal tempat mengalirnya hasrat-hasrat. Untuk menutupi segala yang kurang pada dirinya, manusia selalu berupaya mencari keutuhan bagi dirinya. Hasratlah menjadi penutup sementara segala kekurangan yang ada pada diri. Manifestasi-manifestasi hasrat pada subjek ini dapat kita lihat pada manusia yang menginginkan identitas pada dirinya. Identitas merupakan penanda-penanda hasrat bagi subjek agar dapat masuk dalam ranah sosialnya, seperti nama diri, agama, suku, kebangsaan, status sosial, karakteristik, dan lain sebagainya. Manusia membutuhkan identitas tersebut agar eksistensial dirinya terus terjaga. Manusia menganggap dengan adanya identitas itu, segala kekurangan pada diri dapat ditutupi. Bagaimana cara kerja hasrat ini? Dalam konsep lacanian, cara kerja hasrat terjadi pada tahap Imajiner. Di mana ketika subjek masuk dalam ranah Simbolik, maka bahasa sebagai pembentuk identitas subjek terus menerus diidentifikasi melalui citraan-citraan yang ditemui oleh subjek. Sebagai contoh, kita melihat orang yang memiliki mobil itu seolah memiliki sense of identity, diri seolah utuh dengan berada di dalam mobil, dengan identitas imajiner ‘kaya’, ‘keren’, ‘berwibawa’, ‘eksklusif’, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan identitas keartisan yang membawa pada citraan ‘keren’, ‘cakep’, ‘tenar’, ‘hebat’, ‘populer’, ‘kondang’, dan sebagainya yang mendorong kita secara imajiner berhasrat untuk mengakuisisi penanda-penanda identitas itu. Bukan pada benda seperi mobil atau sosok artis idola itu yang dihasrati sesungguhnya oleh subjek, melainkan bagaimana mobil dan identitas keartisan tersebut dapat memberi keutuhan bagi identitas atau sebuah eksistensi substansial. Hasrat Kekuasaan: Hasrat Narsistik Mekanisme hasrat termanifestasikan pada keinginan-keinginan kita akan material dan non-material. Sebut saja handphone, mobil, rumah, kekuasaan, tokoh, artis, dan lainnya yang dikira dapat membawa keutuhan identitas subjek. Seperti yang dikatakan oleh Lacan bahwa hasrat tidak muncul dengan sendirinya. Hasrat ada karena ada hasrat orang lain. Hasrat ingin mendapatkan kekuasaan muncul karena di(salah)duga memberikan keutuhan bagi eksistensi diri. Kekuasaan yang menjadi penanda utama (master signifier) akan diikuti secara metonimia dengan penanda-penanda lainnya seperti ‘hebat’, ‘pintar’, ‘elegan’, ‘kaya’, ‘terpandang’, ‘terhormat’ dan lain sebagainya. Penanda-penanda sebagai pembawa penanda utama identitas kekuasaan, seperti menjadi anggota DPR(D), Presiden, atau kekuasaan-kekuasaan penting lainnya ini akan memberikan kenyamanan sang Ego. Ketika sang Ego merasa nyaman, maka ia memberikan kepuasan pada diri, pada hasrat narsistik. Dalam Lacanian ada dua jenis hasrat manusia yang paling dominan dan paling sering direpresi: hasrat nasrsistik (menjadi) dan hasrat anaklitik (memiliki). Kedua hasrat ini saling berhubungan. Jika hasrat anaklitik merupakan hasrat ingin memiliki identitas, yang dapat memberikan rasa nyaman sementara, maka rasa nyaman itulah yang memberi kepuasan bagi hasrat narsistik. sekalipun kedua hasrat ini berada pada alam ketaksadaran bukan berarti ia bertahan selamanya disitu, ia akan mencuat keluar ketika Ego Super tak mampu lagi membendung gejolak hasrat ini. Ia mencuat tanpa disadari di wilayah kesadaran. Saat ini, segala sektor kehidupan kita telah dikapitalisasi dan dimaterialisasi, identitas-identitas primordial dan relijius yang diberikan oleh Ego Super yang kita bawa sejak kecil, melalui pemberian orang tua, pemuka agama, lingkungan, dan sekolah – seolah sudah tak mampu lagi memberikan “kenyamanan narsistik”. Orang akan dikenal, dikagumi, disenangi, dicintai apabila ia mengejawantahkan simbol-simbol kemewahan (properti), keelokan (tampan, macho, feminim), kecendikiaan (gelar-gelar), dan seterusnya. Tanpa simbol-simbol itu, kita mungkin tidak dianggap sebagai “orang”. Kekuasaan di negeri ini dapat menjadi pintu masuknya karena dapat mengakses simbol-simbol tadi. Jika melihat bagaimana orang sukses membutuhkan proses yang panjang untuk menginternalisasi simbol-simbol tersebut, maka jalan pintasnya ada pada kursi kekuasaan. Kekuasaan tentu menjadi jalan masuk untuk jalan lain untuk mendapatkan simbol-simbol itu, yaitu korupsi. Jalan pintas ini tentu saja menjadi godaan di tengah persaingan yang semakin padat. Orang-orang berpacu dengan rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkan tiket masuk kekuasaan ini. Tiket masuk itu ada pada uang. Uang menjadi alat tukar bagi atribut-atribut yang mampu mentransfer simbol-simbol yang menjanjikan kenyamanan narsistik. Hasrat ini akan berlangsung secara terus-menerus selagi simbol-simbol itu terus dipertahankan. Siapa yang mempertahankannya? Kapitalisme! Ia adalah fenomena lain yang harus dilihat sebagai penyebab munculnya hasrat-hasrat narsistik para caleg ini. Kapitalismelah yang mendorong orang untuk memaksimalkan profit dengan cara apapun. Termasuk keinginan untuk berkuasa. *Penulis adalah peneliti pada Creol Institute, Research dan Cultural Relationship Jambi, 8 November 2013 tulisan ini pernah dimuat di harian Jambi Ekspress tgl 10 Januari 2014

[+/-] Selengkapnya...

Ancaman Sistem Pendidikan

oleh: Ricky A. Manik Dalam sebuah status facebook saya pernah menuliskan tentang pendidikan kita yang terancam pada dua sistem besar, yaitu kapitalisme dan totalitarisme religius. Status itu kemudian dikomentari oleh beberapa teman, tetapi ada satu komentator yang menarik perhatian saya untuk kemudian saya tuliskan dalam esai ini. Komentator itu adalah seorang guru, bagian dari sistem pendidikan itu, yang dibeberapa komentarnya tidak mengidealkan dirinya sebagai seorang guru dengan konstruksi pemikirannya. Sebagai pendidik yang memiliki cara berfikir demikian bagi saya miris karena melalui pendidikan inilah peradaban manusia yang baik dapat dibentuk. Pendidik menjadi tonggak penting dalam menciptakan produk-produk didikan yang mandiri, bertanggung jawab, manusiawi, berjiwa sosial yang tinggi, dan bermental baik. Dalam hal ini saya tidak akan menyalahkan teman saya itu, sebab ada yang lebih esensial yang menjadi pertanyaan, mengapa teman saya itu memiliki cara berfikir seperti itu? Apakah ini mengartikan bahwa ada sistem yang sekarang sedang bekerja pada sistem pendidikan kita yang menghasilkan produk-produknya hari ini. Tetapi paling tidak, sebagai pribadi yang pernah mengecap dunia akademisi dan berprofesi sebagai pendidik mesti juga memiliki kesadaran intelektual dan kritis terhadap fenomena yang ada disekitar kita. Kesadaran intelektual itu adalah kesadaran kita untuk mau terus mengasah cara berfikir, menggali terus pengetahuan-pengetahuan dan meng-upgrade-nya dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, kesadaran intelektual adalah mentalitas ilmiah. Sikap pribadi inilah yang sesungguhnya mesti dilakukan ketika sistem dan situasinya tidak membawa pada keuntungan bagi kita untuk berkembang dan maju. Dengan memiliki mentalitas ilmiah inilah kita dapat maju dan tidak terjebak pada kebodohan, seperti di bidang politik dan bidang lainnya. Produk Pendidikan Kita Hari Ini Kembali pada bukti produk pendidikan kita hari ini. Akhir-akhir ini kita sering mendengar carut-marut persoalan bangsa ini yang terus mendera kita seperti korupsi, kemiskinan, pertikaian antarwarga/etnis, antarsiswa, perceraian, perusakan-perusakan yang dilakukan oleh ormas-ormas atas nama agama dan lain sebagainya. Seperti tak habis-habisnya yang terus saja terjadi berulang-ulang. Setiap tahun kelulusan sekolah selalu saja ada tawuran antarsiswa atau bunuh diri siswa. Diskriminasi-diskriminasi bagi kaum yang identitasnya tidak diakui oleh agama dan negara, seperti kaum syiah, ahmadiyah, dan kaum LGBT. Negara dan pemerintah yang seharusnya berperan dalam penyelesaian masalah tersebut malah kian korup mencuri hak-hak rakyat yang notabene berada digaris kemiskinan, yang memiliki hak untuk sekolah, fasilitas dan pelayanan kesehatan dan publik lainnya, serta hidup layak di negerinya sendiri. Berita-berita tentang anak membunuh ibu kandung, ayah memperkosa anaknya, bayi-bayi yang lahir tanpa dikehendaki orang tuanya, tipu-menipu dengan berbagai modus, premanisme yang berkedok organisasi formal, dan banyak lagi persoalan-persoalan lain yang menandakan manusia tak lagi menghargai manusia lainnya. Contoh lain yang barangkali dapat kita temui di dalam kehidupan masyarakat kota Jakarta atau kota-kota lainya, di mana masyarakat kita telah teratomisasi sedemikian rupa sehingga orang-orang hanya sibuk dengan urusan-urusan privat mereka terkait dengan akumulasi kekayaan atau mempertahankan hidup mereka dengan kebutuhan-kebutuhan dasar belaka. Hal ini tidak bisa disalahkan juga mengingat kondisi hari ini menggiring kita untuk memprioritaskan keselamatan diri dan keluarga sebagai yang utama. Hal ini tentu saja menggerus sistem kehidupan bersama dalam bentuk solidaritas sosial dan keadilan, sebab bukan lagi sebagai prioritas utama. Orang-orang menjadi tidak peduli lagi ketika terjadi suatu ketidakadilan, orang-orang tidak peduli lagi ketika ada orang lain yang menderita bukan karena keinginannya atau kesalahannya, melainkan karena terlahir dengan kelas sosial yang tak tepat, dan orang-orang pada akhirnya menganggap kejahatan dan penderitaan sebagai suatu biasa. Seorang filsuf perempuan asal Jerman Hannah Arendt menganggap bahwa kejahatan hari ini menjadi suatu yang banal. Kejahatan bukan lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi sudah menjadi sebagai rutinitas sehari-hari. Ketika manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya, manusia yang tidak lagi dihargai dirinya sebagai makhluk yang tinggi derajatnya. Kita melihat manusia telah kehilangan humanismenya. Inilah wajah-wajah atau produk-produk pendidikan kita, yang menghasilkan manusia-manusia yang tidak lagi menghargai hakekat kemanusiaan. Pendidikan kita hari ini memang tidak mengajak dan mengajarkan tentang nilai-nilai kemanusiaan itu. Manusia kehilangan esensinya sebagai makhluk yang beradab. Melihat persoalan bangsa di atas, maka saya berani mengatakan bahwa pendidikan kita telah gagal memberikan sumbangan pada proses humanisasi atau memanusiakan manusia. Pendidikan seharusnya menjadikan kemanusiaan sebagai dasar bagi sistem pendidikannya. Ancaman Bagi Sistem Pendidikan Seperti yang saya kemukakan diawal tulisan ini bahwa sistem pendidikan kita terancam oleh dua sistem ekstrem, yaitu totalitarisme religius atau fundamentalisme agama dan kapitalisme atau fundamentalisme pasar. Pada sistem totalitarisme religius, kita digiring pada ketaatan yang buta sehingga kita tidak mampu untuk berfikir mandiri. Agama menjadi sesuatu yang absolut, yang tak perlu dipertanyakan lagi. Begitu pula dengan sistem kapitalisme yang memiliki logika mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Ia bersinergi dengan sistem globalisasi yang menganut pandangan bahwa manusia harus mampu bersaing secara ekonomi. Mereka harus bekerja di dalam sistem global yang modern dan berteknologi tinggi. Mereka seolah dituntut untuk memiliki kemampuan yang tepat dan bagaimana hidup efisen untuk mencapai keberhasilan ekonominya. Sistem-sistem tes dan standar-standar bahan ajar bukan malah membebaskan anak didik dalam menentukan dirinya sendiri melainkan mencekik jiwa mereka. Contoh lain yang dapat kita lihat dari sistem totalitarisme religius adalah perilaku-perilaku ormas yang berkedok agama yang begitu berkuasanya dalam melakukan penghakiman sendiri karena dianggap menyimpang dari norma-norma agama. Negara dan aparatusnya tak dapat berbuat banyak ketika dalil agama atau ideologi tertentu dijadikan acuan dalam tindakan tersebut. Inilah yang mendorong manusia pada ekslusivisme diri dengan mengabaikan identitas orang lain. Ketika orang lain itu berbeda dari norma-norma dan nilai-nilai di dalam keyakinan dan kultur kita, maka dengan gampangnya kita me-label-kannya sebagai yang ‘menyimpang’, ‘sesat’, ‘kafir’, ‘abnormal’, ‘PKI’, dan berbagai stigmatisasi yang dilekatkan pada diri orang tersebut. Mereka itu berhak disingkirkan, dijauhi, atau mungkin dilenyapkan karena dianggap akan merusak keyakinan, moral, dan kultural. Efek dari sistem ini adalah kepatuhan dan tunduk akan ideologi tertentu dengan doktrin-doktrin religiusnya yang eksklusif dan tradisional. Sedangkan pada sistem kapitalisme mencengkram orang pada ketidaksadaran diri untuk menjadi konsumtif dan hanya sibuk mengumpulkan uang. Sistem ini menciptakan manusia-manusia yang menjadikan uang dan daya beli sebagai ukuran kemanusiaan seseorang. Kedua sistem ini jelas menjajah kebebasan kita dan membawa penderitaan dalam hidup. Tujuan utama pendidikan menurut Chomsky adalah menciptakan manusia-manusia yang bebas, yang mampu berhubungan satu sama lain dalam situasi dan kondisi yang setara. Memang, pendidikan adalah suatu proses produksi, tetapi bukan produksi barang cetakan yang ketat, melainkan produksi manusia-manusia bebas. Pengertian bebas di sini bukan berarti sebebas-bebasnya, tetapi juga memproduksi warga negara yang bijak. Selain bebas berkarya dalam menentukan kehidupannya, sebagai warga negara juga patut patuh pada hukum yang berlaku. Jika hari ini kita tak juga menyadari ancaman dari kedua sistem ini, maka masa depan produk pendidikan kita akan semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan kita hanya akan menciptkan manusia-manusia yang memiliki pola pikir ingin mendominasi dan mengumpulkan harta serta kuasa semata. Seperti dalam bahasa Adam Smith yang dikutip oleh Chomsky, yakni pendidikan yang menjadikan manusia sebagai penguasa dari manusia lainnya, yang rakus, serta tidak ingin membagikan apapun untuk siapapun, kecuali itu memberikan keuntungan pada dirinya. Jambi, 14 September 2013 *Penulis adalah peneliti pada RODA culture and education

[+/-] Selengkapnya...

Hidup Orang Rimba sebagai Pembelajaran

Oleh: Ricky A. Manik

Taman Budaya Jambi mengadakan kegiatan sarasehan dengan tema “Eksistensi dan Budaya Orang Rimba dalam Menuju Pembangunan Ekonomi Kreatif” pada tanggal 11 September 2013. Kegiatan ini merupakan satu rangkaian dari beberapa kegiatan yang mengangkat eksistensi Orang Rimba dari tanggal 10-11 September 2013. Kegiatan lain yang diadakan Taman Budaya ini adalah berupa pertunjukan seni (teater, tari, dan musik) dan pameran hasil kerajinan Orang Rimba, serta diadakan pula workshop selama dua hari tentang tenaga dokumentasi arsip karya seni. Kegiatan ini sepertinya ingin mengangkat dan memperkenalkan eksistensi Orang Rimba melalui kebudayaan mereka. Tetapi, kegiatan ini bagi saya justru menyimpan paradoksal tersendiri. Paradoks kegiatan ini saya hubungkan pada apa yang ditulis oleh pemakalah pada sarasehan tersebut. Ada dua makalah yang saya dapat dalam sarasehan tersebut yaitu makalah Prof. Dr. Sri Hastanto, S. Kar dan makalah Zainuddin. Sri Hastanto di dalam makalahnya menekankan Orang Rimba sebagai subjek bukan objek. Orang Rimba dalam kajian harus dilihat dari hulunya bukan hilirnya. Pada pandangan Sri saya sepakat bahwa untuk menjaga eksistensi dan budaya Orang Rimba adalah dengan menggunakan sudut pandang dan parameter mereka. Pada makalah Zainuddin sepertinya ia ingin mengemukakan bahwa keberadaan Orang Rimba dengan kulturnya dapat dijadikan aset budaya bagi Jambi dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata provinsi Jambi yang saat ini barangkali belum dikenal oleh orang luar dengan memperlihatkan data-data kunjungan wisata ke provinsi Jambi. Di dalam kesimpulan makalahnya, Zainuddin menginginkan kehidupan Orang Rimba menjadi tinggi dengan menambah skill dan keterampilan agar wisata ekobudaya di Jambi menjadi semarak. Ia beranggapan bahwa Orang Rimba harus dilibatkan dalam pembangunan supaya memiliki kecakapan hidup. Saya tak tahu kecakapan hidup seperti apa yang diinginkan Zainuddin terhadap Orang Rimba ini? Apakah Orang Rimba ini tidak cakap hidupnya di rimba dibandingkan yang bukan Orang Rimba? Pandangan Zainuddin ini bertolak belakang terhadap pandangan Sri yang justru terjebak menjadikan Orang Rimba sebagai objek. Meskipun ia mengatakan bahwa Orang Rimba harus dilibatkan langsung terhadap pembangunan wisata Jambi bukan berarti Orang Rimba disini kemudian menjadi subjek. Sebab, mengajak Orang Rimba untuk ikut terlibat pembangunan wisata ekobudaya tetap tidak mengubah kehidupan mereka seperti yang mereka inginkan, tetapi malah mengalienasi mereka. Cobalah tanya, apa benar mereka menginginkan pertumbuhan wisata di Provinsi Jambi ini? Apa benar mereka menginginkan kebudayaannya mendapat perhatian? Apa benar mereka ingin terlibat dan berandil dalam memajukan kebudayaan Jambi? Saya rasa tidak. Orang Rimba itu hanya butuh hutan. Mereka hanya butuh hutan tetap terjaga, terlindungi dari pembukaan lahan-lahan sawit dan dari pembalakan-pembalakan liar serta limbah-limbahnya. Begitu pula halnya dengan kegiatan yang diadakan oleh Taman Budaya itu sendiri, disatu sisi ia ingin mengajak dan memperkenalkan kebudayaan Orang Rimba, tetapi disisi lain ia tetap mengalienasi Orang Rimba dari kehidupan mereka. Sebut saja tema yang diangkat dalam acara sarasehan tersebut yang mengarah pada pembangunan ekonomi kreatif. Tema ini menjadi pertanyaan bagi saya, yaitu ekonomi bagi siapa yang ingin dituju untuk dibangun? Apakah ekonomi Orang Rimba atau ekonomi masyarakat Jambi umumnya? Kalau dikatakan untuk Orang Rimba jelas ini sebuah ketidaktahuan atau ketidakpahaman tentang masyarakat komunal yang tidak mengenal sistem ekonomi. Orang Rimba hidup di rimba yang tidak mengenal sistem kepemilikan dalam logika kapitalisme. Alam milik bersama, dijaga bersama dan untuk bersama. Alamlah yang menjadi sumber kehidupan bagi mereka. Jadi, salah kaprah jika kita ingin menjadikan Orang Rimba sebagai Sumber Daya Manusia sebagai faktor produksi dalam kegiatan ekomomi yang menjadi konsep ekonomi kreatif tersebut. Kalaupun konsep itu kemudian diberlakukan terhadap Orang Rimba, maka konsep ekonomi kreatif ini tetap menjadikan Orang Rimba sebagai objek untuk pertumbuhan ekonomi yang jelas bukan untuk Orang Rimba itu sendiri. Belajar dari Orang Rimba Seharusnya kita yang perlu belajar kearifan budaya Orang Rimba yang begitu menghargai alam. Baru-baru ini kita didatangi bintang Hollywood Horrison Ford untuk membuat film dokumenter tentang hutan. Diberitakan bahwa Ford sangat kecewa dengan hutan Indonesia yang telah rusak, tetapi tak ada tindakan tegas dari pemerintah terhadap pelaku pengerusakan. Tak dapat dipungkiri bahwa faktanya hutan kita memang semakin rusak. Sungai-sungai kotor akibat sampah dan limbah. Kita seolah tak pernah peduli apa yang akan terjadi jika kita terus-terusan merusak alam. Padahal, entah sudah berapa kali kita tertimpa bencana seperti tanah longsor, banjir dan banjir bandang. Belum lagi asap kabut yang berdampak buruk pada kesehatan dari kebakaran-kebakaran hutan untuk membuka lahan. Lihatlah Orang Rimba, mereka begitu menghargai hutan, yang menjadikan alam sebagai sumber kehidupan. Hal ini mereka atur dalam hukum adat mereka. Jika ada Orang Rimba yang merusak hutan, sekalipun ketua adat, tetap mendapatkan hukuman yang sama. Hukum dan keadilan benar-benar tegak pada Orang Rimba. Pengambilan hasil alam oleh Orang Rimba pun hanya sebatas kebutuhan semata. Mereka tidak diperbolehkan menebang pohon sembarangan, kecuali telah dilakukan upacara menebang pohon yang mereka sebut sebagai Pucuk Alas. Mereka mengambil pohon hanya untuk membuat pondok tempat berteduh. Pengambilan pohon tanpa upacara pucuk alas akan dikenakan denda. Orang Rimba juga tidak membuang limbahnya di sungai-sungai, sebab bagi mereka sungai juga menjadi sumber kehidupan. Selain untuk air minum, ikan-ikannya dijadikan sumber makanan. Dalam mengambil ikan pun, mereka hanya mengambil yang besar-besar saja. Hal ini dapat kita lihat dari tanggok yang mereka gunakan untuk menangkap ikan. Di sini, kita dapat belajar tentang ketidakserakahan Orang Rimba dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka tahu, ketika mereka menghargai alam, alam akan memberikan kehidupan bagi mereka. Itu sebabnya mereka mempercayai dewa-dewa yang ada di alam, seperti dewa kayu, dewa laut, dewa gunung, dewa langit, dewa gajah, dewa harimau, dan lain sebagainya. Ado rimbo ado bungo//Ado bungo ado dewo//Hopi ado rimbo hopi ado bungo//Hopi ado bungo hopi ado dewo. Kehidupan dan kearifan Orang Rimba dalam menghargai alam inilah yang harus kita pelajari. Percaya bahwa alam yang disediakan oleh Sang Pencipta sangat cukup bagi kebutuhan hidup manusia. Kita saja yang serakah, yang terus-menerus mencari keuntungan untuk diri sendiri tanpa pernah peduli akan lingkungan dan nasib orang lain. Tak perlu berorientasi dari teori Barat dalam melihat masalah bencana alam, tak perlu menggunakan parameter Barat dalam menilai persoalan-persoalan sosial kita hari ini yang dipenuhi dengan aksi kekerasan dan aksi sikut-menyikut dalam perebutan kekuasaan. Cukup melihat cara hidup komunal Orang Rimba dalam menjaga keharmonisan hidup sesama mereka dan keharmonisan hidup bersama alam. Mau naik kek harga minyak dunia, mau naik kek nilai tukar dolar, tidak pengaruh bagi Orang Rimba. Jadi, kitalah yang sesungguhnya perlu dibina dalam kecakapan hidup itu, bukan Orang Rimba. Di sela-sela pemaparan makalah tersebut, saya melihat salah satu Orang Rimba hadir dalam acara sarasehan itu. Ia hanya duduk manis mendengar dan melihat aktivitas diskusi yang tentu saja menurut saya tak ada pentingnya bagi dirinya. Di sarasehan itu, Orang Rimba tetaplah menjadi objek. Jambi, 13 September 2013

[+/-] Selengkapnya...

Fredie Arsi: “Papa”nya Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI)

Oleh: Ricky A. Manik

Sudah seharusnya saya menulis sosok yang satu ini, sosok yang mungkin jauh dari hingar bingar kesastraan dan kesenian Indonesia. Kalau ingin melihatnya dalam peta kesusastraan, mungkin tak akan kita jumpai sosok ini. Ironisnya pun, ia tak banyak dibicarakan di peta kesenian. Sebab, jalan kesenian yang diambil oleh sosok ini juga boleh dikatakan bukan sebagai mainstream kesenian seperti tari, teater, lukis, musik dan seni lainnya. “Ini jalan sunyi, Ky” begitu katanya dengan logat Medannya. Tetapi, di wajahnya yang tak muda lagi, rumbut putih dan panjang, konsistensi dan yakin dirilah yang menjadi kekuatan baginya untuk menyusuri jalan itu, sebuah jalan yang menjadi pilihan beserta keenam anaknya dengan membentuk sebuah kelompok yang diberi nama Deavies Sanggar Matahari menekuni kesenian ini: Musikalisasi Puisi. Sebuah genre yang memadukan seni musik dan sastra (puisi). Saya mengenal sosok ini tatkala keikutsertaan saya dalam kepanitiaan Bengkel Sastra Kantor Bahasa Provinsi Jambi (KBPJ) di tahun 2007. Sebuah program KBPJ di bidang pembinaan sastra yang berlangsung secara periodik. Program ini memberikan pelatihan-pelatihan kepada murid dan guru sekolah serta khalayak umum untuk mengenal dan belajar bersastra. Materi-materi yang diberikan pada program Bengkel Sastra ini adalah pelatihan musikalisasi puisi, pelatihan penulisan puisi, cerpen (prosa), esai sastra, dan teater. Musikalisasi puisilah yang mengantarkan saya mengenal sosok yang bernama Haji Fredie Arsi. Awalnya saya memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’. Namun disaat ia memperkenalkan dirinya kepada peserta kegiatan, Fredie Arsi ini lebih suka dipanggil “Papa”. Di lain tempat, “anak-anak”nya memanggilnya dengan sebutan”Opung”. Baginya, panggilan itu membuat dirinya tidak “berjarak” dengan peserta. Ia ingin membangun ikatan emosional antara dirinya dan anak didiknya. Sebelum memulai pemberian materi musikalisasi puisi, yang selalu saya ingat, Papa akan mematikan handphone¬-nya. Ia tak ingin ada gangguan, sekalipun Presiden yang menelponnya, candanya. Tapi itu menjadi bukti bahwa ia menjaga integritas dirinya dan menghargai orang lain, apapun status sosialnya. Papa selalu menempatkan dirinya bukan sebagai “guru” (yang merasa lebih tahu segalanya), tetapi sebagai “murid” yang sama-sama ingin belajar. Materi musikalisasi puisi ia sampaikan dengan cara yang sederhana, kata-kata yang mudah dicerna, sesekali humor dan canda (hal pada diri Papa yang selalu membuat saya rindu), ia berikan kesempatan peserta untuk bertanya, berekspresi, atau apapun yang ingin disampaikan oleh peserta mengenai musikalisasi puisi. Prinsipnya, ia tidak mendikte peserta. Begitulah ia menghargai seluruh peserta (umumnya anak sekolah) sebagai manusia. Papa, membuat peserta (anak didik) merasa menjadi ada, menjadi ber’arti’. Musikalisasi Puisi: Sebuah Pelajaran Berharga Melihat pola yang diterapkan oleh Papa dalam memberi materi musikalisasi puisi, saya menjadi ingat dengan apa yang menjadi prinsip dan perjuangan Paulo Freire, seorang intelektual Brazil yang pernah menjalani masa pembuangan dan pengasingan politik oleh rezim militer Brazil. Prinsip itu adalah humanisme dan kebebasan. Menempatkan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya dan menjadi penguasa bagi dirinya sendiri, sebab fitrah manusia adalah menjadi merdeka, menjadi bebas. Apakah Papa pernah mengenal Freire? Entahlah. Namun, apa yang menjadi harapan Freire, telah diperbuat oleh Papa. Konsep-konsep yang ditawarkan oleh Freire yang menjadi filosofi manusia yang terbebaskan (liberated humanity) terformulasi dalam satu kata oleh Papa, yakni “Cinta”. Dengan cinta ia berpegang, dengan cinta ia memberi, dan dengan cinta ia mendapatkan. Melalui formula inilah, tak heran selama proses pelatihan, ia begitu dicintai, ia begitu disayang, dan ia menerima baptis sebagai “Papa” bagi anak-anak musikalisasi puisi yang dibinanya. Dan orang tua ini, benar-benar sudah membuat saya “jatuh hati”. Pada tahun 2008, saya ditunjuk menjadi ketua Bengkel Sastra KBPJ (2008-2010). Spontan saya menginginkan Papa menjadi narasumber kembali. Tak ada yang keberatan dari anggota tim Bengkel Sastra yang saya rekrut, karena saya tahu mereka juga sudah terlanjur “jatuh hati”. Tak semua anggota tim Bengkel Sastra memiliki pengalaman seni atau latar belakang sastra, tetapi selama proses kerja berlangsung, mereka juga menerima “virus cinta” dari Papa. Dengan cinta itulah perbedaan latar ilmu, suku, agama, dan status sosial bisa disatukan. Kami pun akhirnya didaulat menjadi “anak-anak”nya Papa. Tiga tahun lamanya saya mengkoordinatori Bengkel Sastra, selama itu pula saya dan teman-teman yang lain menjalani proses bersama Papa. Dari kabupaten ke kabupaten kami susuri. Banyak cerita, banyak canda, dan banyak hal yang bisa kami petik dari Papa. Utamanya pelajaran tentang kerendah-hatian. Dengan kerendah-hatian inilah Papa begitu diterima dan disayang dari berbagai etnis maupun agama. Hal ini yang membuat dirinya semakin yakin bahwa melalui musikalisasi puisi, persaudaraan itu bisa terjalin, saling menghargai senantiasa terjaga, dan kedamaian dapat terjadi. Banyak hal yang dapat diserap dalam bermusikalisasi puisi. Sepanjang proses yang saya jalani bersama Papa, saya pun meyakininya. Di dalam musikalisasi puisi, orang-orang mencipta puisi, orang-orang menghargai karya cipta para penyair, orang-orang sama-sama berkreativitas, orang-orang mengeksplorasi musik dengan memanfaatkan alat-alat musik yang ada di daerahnya, orang-orang menghargai kesenian dan kebudayaannya, dan orang-orang menghargai orang lain. Melalui musikalisasi puisi, sastra menjadi kian akrab, penyair semakin dikenal, kesenian dan kebudayaan semakin dimiliki dan dihargai, manusia menjadi hakekatnya manusia—merdeka! Hari ini, tengoklah, semua malah memperlihatkan wajah sebaliknya: Puisi hanya menjadi artefak, penyair hanya dikenal sesema penyair, alat-alat seni tradisi hanya diketahui si pemilik saja, generasi muda tak mengenal budaya leluhurnya, pertikaian antaretnis, golongan, dan agama acap terjadi, korupsi kian masif dan sistemik, dan petinggi-petinggi negara kita sibuk hanya untuk kepentingannya dan golongannya saja. Bukankah ini semua adalah buah dari pendidikan kita? Inilah yang menjadi kerisauan Papa. Diusianya yang senja, ia tidak lantas hanya menikmati hari tuanya bersama istri tercintanya—istri yang selalu setia, istri yang selalu cantik buat dirinya, duduk menikmati suasana dan sejuknya puncak Cisarua, tetapi ia memilih untuk terus menebarkan cinta kepada generasi-generasi yang diharapkannya dapat menjadi baik. Dengan semangat dan keyakinan, disusurinya pelosok-pelosok daerah di Indonesia untuk menebarkan “cinta” melalui musikalisasi puisi. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa, barangkali begitu ia memaknai bait syair Chairil. Tak ingin apa yang sudah menjadi kerja kerasnya hilang begitu saja, bersama sahabat dan anak-anaknya ia bentuk sebuah komunitas, sebuah wadah yang dicita-citakannya dapat menjadi tali persatuan anak-anak Indonesia dari beragam suku, agama, dan ras. Kelak melalui wadah ini, kesenian, kebudayaan, dan kemanusiaan menemukan martabatnya. Adalah Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) yang digagas oleh Papa bersama sahabat-sahabatnya. Namanya berbau militer dan sedikit meresahkan kawan yang dari NAD dikala Rakor Komunitas ini. KOMPI sendiri dibentuk pada tanggal 24 Desember 2006 dan dideklarasikan pada tanggal 9 Januari 2009. Sepanjang dibentuknya KOMPI hingga pendeklarasian, sosialisasi senantiasa dilakukan oleh Papa dikala ia memberikan pelatihan (workshop) dan menjadi juri lomba musikalisasi puisi di daerah-daerah. Kerja kerasnya ini membuahkan hasil dengan terbentuknya KOMPI di beberapa Provinsi dan Kabupaten. Ada kebahagiaan bagi dirinya saat itu. Harapan yang mulai memperlihatkan jalannya. Jalan yang mulai tak sunyi lagi. Oleh Papa, saya diminta untuk menjadi ketua KOMPI Provinsi Jambi. Saya tak menerima alasan yang cukup mengapa ia memilih saya. Sementara, ada teman-teman lain, yang tentunya memiliki kapasitas lebih dari saya. Namun akhirnya, saya menerima kepercayaan itu. Sebagai wujudnya, pada Mei 2009, saya bersama teman-teman KOMPI mengundang Deavies Sanggar Matahari bersama Papa dan Mama untuk datang ke Jambi, memberikan workshop dan pentas Musikalisasi Puisi, sekaligus sebagai pengukuhan akan keberadaan KOMPI Jambi. Di tahun 2010, di akhir saya sebagai ketua Bengkel Sastra, saya masih mengajak Papa dan memprioritaskan materi musikalisasi puisi ke daerah-daerah tingkat II. Di setiap kebersamaan dengan Papa, semangat berkesenian selalu muncul. Terkadang saya menjadi malu, sebagai orang yang masih muda, justru hanya berdiam diri saja tanpa berbuat apa-apa untuk kesenian dan budaya sendiri. Disaat kami (saya, Nukman, Pandu, Teguh, Yuli, dan Zaki) mulai jengah dengan kehipokritan birokrasi, Papalah yang selalu memberikan semangat itu untuk selalu melakukan yang terbaik bagi kesenian dan kebudayaan, walau dengan langkah kecil-kecil. Ia juga yang menyarankan kami untuk melanjutkan studi. Ada harapan yang dipercayakannya kepada kami, mungkin itu amanat yang harus kami pegang dan jaga. Di tahun 2010 itu saya melanjutkan studi saya, menyusul dua teman yang di tahun 2009 lebih dulu. Segala tanggung jawab mengenai Bengkel Sastra saya kembalikan ke kantor. Sejak itu, saya tak lagi pernah berjumpa dengan Papa. Tahun 2011, saya masih mendengar kabar bahwa Papa masih diundang untuk menjadi juri festival musikalisasi puisi oleh panitia. Tetapi untuk Bengkel Sastra, kondisi kesehatan Papa tidak memungkinkan untuk menjadi pemateri. Papa mulai sakit. 16 Oktober 2011, berita duka itu akhirnya datang. Papa menutup usianya ke-67 tahun. Apa yang telah diperjuangkannya di dunia musikalisasi puisi, bagi dirinya telah selesai, tetapi bagi kita, anak-anak yang diamanahkannya, belumlah selesai. Masih banyak pekerjaan rumah KOMPI yang harus kita lakukan bersama agar apa yang menjadi mimpi Papa, mimpi kita bersama, dapat terwujudkan. Semoga saja. Selesai tulisan ini, serasa suara Papa itu masih terdengar ketika setiap kali kami hendak berpisah: “Baek-baek kalian ya..!” Yogyakarta, 13 April 2012

[+/-] Selengkapnya...

Template by : x-template.blogspot.com