My Great Web page

Menggugat Sistem Pendidikan

oleh: Ricky A. Manik

Kita pernah menerima kabar tentang adanya kasus pelecehan seksual yang dilakukan di lingkungan sekolah bertaraf internasional. Bagi sebagian kita barangkali berita ini bukan hal baru karena rentetan kabar tentang pelecehan seksual di lingkungan sekolah sesungguhnya acap terjadi. Peristiwa di Jakarta International School (JIS) merupakan satu dari berbagai realitas sekolah yang dianggap berkualitas dan represntatif sekalipun tak menjamin proses memanusiakan manusia di dalamnya. Peristiwa ini menjadi penanda bahwa sekolah yang seharusnya menjadi rumah nyaman kedua bagi anak-anak justru menjadi ancaman yang menakutkan dan mengkhawatirkan oleh libido purba orang-orang yang ada di lingkungan sekolah, ironisnya bahkan pendidik itu sendiri. Apa dan siapa yang salah? Pertanyaan ini penting agar kita tahu apa yang menjadi akar permasalahan sehingga peristiwa itu terjadi. Kaca mata hukum akan memandang yang salah adalah si pelaku kejahatan seksual karena ia sebagai sesuatu yang tampak dipermukaan. Bagi saya, peristiwa itu tidak terjadi dengan begitu saja. Ada rentetan hal-hal atau sebab yang harus kita ketahui dan mengerti mengapa peristiwa itu terjadi yang saya anggap sebagai sesuatu yang tak tampak, sebagai sesuatu yang tak dapat dilihat melalui kaca mata hukum. Jika melihat melalui kaca mata psikologis, kejahatan ini akan ada di mana-mana, tidak saja di sekolah. Namun peristiwa pelecehan seksual yang terjadi di sekolah menjadi satu peristiwa penting bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat proses pembelajaran yang humanis. Beralih ke peristiwa lain. Kita baru saja menyelesaikan pesta demokrasi tanggal 9 April 2014 yang lalu dan akan masuk kembali pada pilpres 9 Juli 2014. Beberapa hasil caleg yang masuk dalam kursi kekuasaan adalah muka lama dan beberapa muka baru yang dengan catatan adalah anak dari pejabat atau penguasa lama, sebut saja anak dari Ratu Atut, Akil Mucktar, Amien Rais, Keponakan Prabowo, dsb. Dan, yang lebih membuat saya tertawa miris adalah Aceng Fikri yang kita tahu diberhentikan jabatannya sebagai Bupati Garut karena kasus nikah sirihnya juga melenggang ke senayan. Apa yang salah? Mengapa orang-orang yang kita tahu track record-nya korup, baik orang tuanya ataupun dirinya sendiri bisa saja terpilih untuk memegang kekuasaan sebagai pengambil kebijakan arah bangsa ini? Demokrasi kita yang penuh argumentasi kosongkah atau kita yang buta politik? Dari dua peristiwa di atas menandakan bahwa ada yang salah pada sistem pendidikan kita. Alasannya adalah: sistem pendidikan kita tidak menghasilkan orang-orang yang humanis, orang-orang yang peduli sesama, orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan baik, dan orang-orang yang bermanfaat bagi sesama. Sistem pendidikan kita menghasilkan orang-orang yang buta politik, menghasilkan orang-orang tertentu dengan kekayaan yang dimilikinya untuk mendominasi orang lain, dan menghasilkan orang-orang korup.

Sistem Pendidikan Kita Sejak bangsa ini merdeka dari kolonialisme, sistem pendidikan kita meskipun berbagai perubahan dan kebijakan yang diambil tetap belum menunjukan perubahan yang signifikan sebagai bangsa yang cerdas dalam mengelola kehidupannya. Padahal cita-cita pendidikan sedari awal adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang dalam UUD ’45. Jika kita runut sistem pendidikan kita sejak era Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi, secara keseluruhan belum menghasilkan apa yang menjadi cita-cita bangsa. Meskipun di era Orla sistem pendidikan telah memberikan angin segar bagi arah perjalanan bangsa ini. Pada masa Orba, sistem pendidikan kita justru mengalami kemerosotan. Pendidikan yang digenggam Orba tidak mampu memberikan ruang selebar-lebarnya bagi pencerdasan kehidupan. Yang berlaku justru ideologi penyeragaman ala militer dan tak memberi ruang sedikitpun bagi berkembangnya keragaman pikiran, ideologi, budaya, suara, dan tindakan. Pendidikan hanya mengajari orang untuk patuh dan menjadi penurut. Sistem pembangunan yang dianut justru melahirkan sekolah-sekolah swasta (perguruan tinggi swasta) yang tak memikirkan segi mutu dan kualitasnya. Tujuan pendidikan lebih diarahkan untuk mendukung tujuan pembangunan nasional sehingga yang dilahirkan dari sistem pendidikan ini adalah para pekerja. Setelah selesai sekolah, mereka masuk dalam dunia kerja, siap menjadi kuli yang diperintah oleh atasan atau majikan tanpa harus melakukan protes apapun. Sistem pendidikan ini juga melahirkan produk-produknya yang tak memiliki kepekaan sosial yang tinggi karena tujuan hidup mereka bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Produk pendidikan ini jelas tidak akan membawa bangsa ini menjadi maju dan baik. Lihatlah pemegang kekuasaan negeri ini yang tak peka terhadap kondisi sosialnya, yang hanya sibuk mengumpulkan pundi-pundi uangnya untuk kemudian melanjutkan trah kekuasaannya kepada keturunan dan kerabat lainnya. Di era Reformasi, kebijakan pendidikan masih sebatas teori. Kebijakan yang diserahkan ke tiap-tiap daerah dalam mengurus pendidikan terkadang masih setengah-setengah dan menghasilkan kebijakan yang tidak menyentuh pada persoalan hakiki pendidikan. Pendidikan yang harusnya mampu menyentuh seluruh lapisan kelas sosial justru menjadi mahal dan tidak terjangkau. Belum lagi kurikulum yang selalu berganti yang menjadikan pendidikan seolah kelinci percobaan dari setiap fase penguasa tertentu. Hal ini menandakan tidak adanya kebijakan politik yang tegas dan kuat, konsep pendidikan yang seperti apa dan bagaimana yang tepat digunakan sebagai alat pencerdasan kehidupan bangsa. Kemunculan sekolah-sekolah bertaraf internasional dan tempat-tempat bimbingan belajar (bimbel) berbayar justru menjadikan sekolah sebagai suatu yang elitis dan menjadi biang kerok dalam melahirkan para pekerja yang tunduk pada majikan, sebab logika sekolah yang bertaraf internasional dan tempat bimbel adalah logika kapitalisme: profit! Tak akan pernah ada proses pendidikan di sana (baca: tempat bimbel dan sekolah (ng)internasional) dalam memberikan pendidikan yang kritis, pendidikan yang peka terhadap kondisi sosial, dan pendidikan yang humanis. Dari masa ke masa, sistem pendidikan kita semakin jauh dari cita-cita bangsa dalam mencerdaskan kehidupannya. Pendidikan seharusnya memiliki tujuan untuk membangun tatanan bangsa yang dibungkus dengan nilai-nilai kepintaran, kepekaan, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan seharusnya juga menjadi tonggak kuat untuk mengentaskan kemiskinan pengetahuan, menyelesaikan persoalan kebodohan, dan menuntaskan segala permasalahan bangsa yg selama ini terjadi. Akan tetapi semuanya itu seperti jauh panggang dari api. Tujuan Pendidikan ala Paulo Freire Bagi Freire, tujuan pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia. Dehumanisasi dan kebutaan politik yang terjadi pada bangsa ini menunjukan tidak ada atau tidak berjalannya proses pendidikan yang memanusiakan manusia. Masalah dunia menurut Freire adalah masalah kemanusiaan, di mana ada manusia yang tertindas dan manusia yang menindas. Masalah penindasan adalah hal yang tidak manusiawi, sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan. Sejatinya manusia adalah subjek yang sadar, kritis, kreatif dan dapat mengatasi realitas yang menindasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia itu sendiri dan mampu membebaskan dirinya dari penindasan budaya, ekonomi, dan politik. Pendidikan ala Freire adalah pendidikan hadap masalah. Konsep ini bertolak dari pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapkan kepada peserta didik agar ada kesadaran akan realitas tersebut. Dengan konsep pendidikan yang emansipatoris, proses memperoleh pengetahuan merupakan proses menyubjekan peserta didik secara aktif di dalam memahami realitasnya. Freire juga mengajak masyarakat agar dapat membaca dunia, sebab kata adalah senjata. Manusia adalah mahkluk tak sempurna dan memiliki tugas ontologis menjadi manusia yang lebih baik dan sempurna. Oleh karena itu, guru dan murid selaku manusia yang belum sempurna harus belajar satu sama lain dalam proses pendidikan. Proses ini harus berdasar pada dialog kritis dan penciptaan pengetahuan bersama. Melihat konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Freire, sudah saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita yang sekarang ini justru menghasilkan para penindas-penindas, para anti-realitas, dan para pembisu. Jika kita memang masih berkeinginan membawa bangsa ini sebagai bangsa yang berkualitas, bangsa yang mandiri, bangsa yang beradab, dan bangsa yang memiliki daya saing tinggi, maka cara yang harus ditempuh adalah mengubah sistem pendidikan kita ke arah yang membebaskan dan humanis.

Jambi, 5 Mei 2014
*Penulis adalah Peneliti pada Creol Institute, Research and Cultural Relationship


[+/-] Selengkapnya...

Fenomena Fiksi Mini: Fenomena Masyarakat (Ter-)Multimedia(-kan)

oleh: Ricky A. Manik

Pengaruh munculnya teknologi elektronik atau multimedia tak dapat dipungkiri telah memberi perubahan pada masyarakat dan kebudayaannya. Perubahan tersebut terletak pada sensibilitas masyarakatnya. Pada masyarakat lisan, sensibilitas terletak pada indera pendengaran, sebab informasi yang didapat oleh masyarakat lisan bersifat temporal, terjadinya melalui tatap muka. Makanya cenderung masyarakat lisan membangun tempat-tempat sejarahnya, monumen-monumen, atau patung-patung tokoh yang mereka anggap penting untuk diingat dan ini membawanya kepada masyarakat yang komunal. Selain itu masyarakat lisan selalu terikat pada konteksnya, harus tatap muka, ada material-material yang hadir dalam wujud nyata. Sementara itu pada masyarakat tulis, informasi itu bersifat meruang dan mewaktu. Dalam konteks sastra dapat kita temukan pada naskah-naskah kuno yang berisi informasi-informasi tentang keadaan, prilaku, tradisi masyarakat pada waktu itu. Ini artinya konteks sosial dan kebudayaan masyarakat tulis termediasi oleh tulisan dan percetakan yang bersifat mekanik. Kalau kita mengetahui kondisi masyarakat melalui tulisan pada suatu zaman tertentu, itu menandakan bahwa tulisan tersebut meruang dan mewaktu.

Bagaimana dengan masyarakat hari ini yang hampir seluruh sektor kehidupannya dilingkupi oleh teknologi elektronik. Apalagi sekarang orang menyebutnya dengan istilah zamannya gadget. Smartphone, laptop, notebook, komputer, kamera, tablet, dan beragam jenis gadget lainnya seolah-oleh diperlukan dan dibutuhkan guna mendapatkan informasi dari seluruh penjuru dunia. Bagi yang tidak memiliki gadget akan dianggap (secara tidak langsung) bagi masyarakat multimedia sebagai orang yang ketinggalan zaman, nggak up to date, gaptek (gagap teknologi), lemot, lelet, dan segala macamnya. Informasi tidak lagi didapat dari seseorang melalui face to face seperti pada tradisi lisan, atau dari media tulis dalam hal ini buku atau naskah-naskah yang berada di luar konteksnya. Dalam artian, kehadiran bahasa dalam tradisi tulis atau cetak memiliki keterbatasan hanya kepada teksnya saja dan konteks selalu berada di luarnya. Multimedia telah memberikan informasi berupa teks-teks yang tidak lepas dari konteksnya, seperti televisi dan internet pada youtube misalnya. Pada konteks tersebutlah letak perbedaan sensibilitas sosial dan kultur masyarakat modern dengan pascamodern. Sensibilitas modern yang menjadi dasar ilmu pengetahuan merupakan produk yang dimediasi oleh tulisan, sedangkan tulisan itu sendiri merupakan kekuatan teknologis yang membentuk subjek yang mandiri di hadapan semesta objek-objek, subjek yang reflektif dan kontemplatif dengan cara mengambil jarak dari kehidupan agar ia mampu memahami, menjelaskan, dan merepresentasikan kebenaran secara objektif. Sedangkan sensibilitas pascamodern tidak lagi membentuk subjek yang mandiri yang berhadapan secara berjarak dengan objek, melainkan membentuk subjek yang terlibat dalam hubungan intersubjektif dengan subjek yang lain sehingga yang diutamakan dalam proses perolehan ilmu pengeahuan bukanlah hasil yang berupa kebenaran, melainkan proses interaksi dan pengalaman dalam proses itu sendiri (Faruk, 2011: 50). Dalam pidato pengukuhan guru besar UGM dengan judul Sastra dalam Masyarakat (Ter-)Multimedia(-kan), Faruk mengatakan bahwa pengertian konteks dalam berbagai pendekatan (pembaca teks dan karya sastra melalui teori sastra) yang digunakan cenderung dipahami sebagai sebuah totalitas yang di dalamnya teks menjadi terdefenisikan, sebagai esensi yang menempatkan teks sebagai eksistensi, sebagai kode yang menempatkan teks sebagai aktualisasinya, atau metabahasa yang menempatkan teks sebagai bahasa sehingga hubungan antara teks dengan konteks menjadi hierarkis. Sedangkan konteks dalam sensibilitas multimedia adalah sesuatu yang diciptakan sehingga membentuk diri semacam simulakrum dan bahkan hiperrealitas dalam pengertian Baudrillard. Karena itu, sensibilitas multimedia yang demikian dapat juga disebut sebagai sensibilitas pascamodern (Faruk, 2011: 21). Fenomena Facebook dan Twitter Sampai hari ini diperkirakan ada sekitar 65 situs jejaring sosial, 39 situs jejaring sosial beranggota diatas 10 juta, dan ada lima situs yang memiliki anggota sebanyak 100 juta, termasuk salah duanya Facebook (FB) dan Twitter. Dua situs jejaring sosial ini sangat fenomenal dibandingkan situs-situs jejaring sosial lainnya yang ada sebelumnya seperti friendster, tagged, myspace, dll. Keberadaan Facebook dan Twitter seolah-seolah telah mengakomodasi masyarakat dalam menjaga hubungan pertemanan atau membuat hubungan sosial lainnya (misalnya mencari jodoh) serta saling berbagi informasi. Selain itu, kedua jejaring sosial ini juga memberi ruang ekspresi kata-kata bagi penggunanya yaitu berupa status yang bisa ditulis kapan saja. Ruang ekspresi kata-kata ini juga memberikan kebebasan tanpa batas sehingga kadang kita temui anak sekolah harus berurusan dengan yang berwajib karena telah memaki-maki gurunya melalui status FB yang dibuatnya. Fasilitas chatting yang ada juga memberikan ruang sesama anggota untuk saling berbincang-bincang secara langsung. Fenomena Twitter juga menjadi kecemasan bagi industri media arus utama (mainstream), baik media cetak, elektronik, maupun online. Seorang kolumnis teknologi Guardian.co.uk bernama Alan Rusbridger dalam opininya itu memperingatkan dan menyarankan pemilik media untuk berdamai dan tidak harus malu mengadopsi kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya. Bagi warga dunia maya (netizen), Twitter yang mulai online sejak 15 Juli 2006 adalah sebuah keniscayaan. Dengan tekanan waktu dan kesibukan, warga di dunia maya ini tidak lagi ngeblog dengan membuat posting yang panjang lebar. Cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi dan menginformasikan peristiwa yang menimpanya atau orang lain, pesan sudah sampai secara berantai. Kecepatan dalam mengakses informasi inilah yang harus diwaspadai dan menjadi pertimbangan oleh media cetak sekalipun telah memiliki kultur pembacanya sendiri. Kehadiran FB dan Twitter dalam konteks sastra juga telah memiliki peran dalam penulisan sastra saat ini. Sebagai media di dunia maya, keduanya telah memperlihatkan kekuatan dan pesonanya yang membuka berbagai kemungkinan bagi pertumbuhan dan penyebaran sastra. Melalui Twitter dan FB seorang penulis dapat mendistribusikan, menjual, atau menginformasikan buku karya-karyanya. Selain itu, sebagai media sosial, FB dan Twitter telah mempertemukan para pemilik hobi dan ketertarikan yang sama, seperti halnya para pecinta sastra yang kemudian membentuk komunitas-komunitas sastra yang terbuka, heterogen, lintas sosial dan dunia. Komunitas-komunitas ini serupa yang oleh Bennedict Anderson sebut sebagai Imagined Communities. Fenomena Fiksi mini Istilah Fiksi mini dipopulerkan oleh Agus Noor. Fiksi mini menurutnya adalah fiksi yang hanya terdiri dari “secuil” kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragraf. Tetapi di dalam fiksi mini terdapat “keluasan dan kedalaman”. Ia menyebutnya fiksi mini bukan prosa mini karena fiksi mini bisa juga berbentuk puisi. Tetapi yang membedakannya dengan “puisi pendek” ada pada unsur naratif atau penceritaan. Puisi pendek seperti haiku memang lebih tepat dikatakan sebagai puisi pendek, bukan fiksi mini. Bila dalam prosa kita menemukan adanya peneritaan seperti penokohan (protagonis dan antagonis), konflik, obstacles atau juga complication dan resolution. Barangkali, pada fiksi mini, justru resolution itu yang dihindari, karena dalam fiksi mini, akhir (ending) menjadi semacam gema, yang terus dibiarkan tumbuh dalam imajinasi pembaca. Seorang novelis dunia Ernest Hemingway pernah bertaruh dengan temannya bahwa ia mampu menulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata. For sale: baby shoes, never worn. Tulisan ini ditulisnya pada tahun 1920 dan Hemingway menganggap bahwa itu adalah karya terbaiknya. Menurut Agus, fiksi mini sesungguhnya punya sejarah yang panjang. Fabel-fabel pendek karya Aesop (620-560 SM), adalah sebuah “kisah mini” yang penuh suspens dalam kependekannya. Di perancis, fiksi mini dikenal dengan nama nouvelles. Orang Jepang menyebut kisah-kisah mungil itu dengan nama “cerita setelapak tangan”, karena cerita itu akan cukup bila dituliskan di telepak tangan kita. Ada juga yang menyebutnya sebagai “cerita kartu pos” (postcard fiction), karena cerita itu juga cukup bila ditulis dalam kartu pos. Di Amerika, ia juga sering disebut fiksi kilat (flash fiction), dan ada yang menyebutnya sebagai sudden fiction atau micro fiction. Bahkan, seperti diperkenalkan Sean Borgstrom, kita biasa menyebutnya sebagai nanofiction. Apa pun kita menyebutnya, saya pribadi lebih suka menamainya sebagai fiksi mini. Begitu kata Agus dalam artikelnya yang berjudul Fiksi mini: Menyuling Cerita, Menyuling Dunia di Harian JawaPos, Minggu 13 Desember 2009. Fiksimini adalah ruang berbagi cerita yang terbuka bagi semua orang yang mengikutinya-biasa disebut sebagai followers. Sesuai dengan namanya, cerita yang ditampung di ruang itu adalah fiksi yang mini alias cerita yang pendek sekali. Setiap satu cerita tak boleh lebih dari 140 karakter, termasuk spasi dan nama pengirim. Tetapi dalam kependekannya fiksi mini itu, unsur-unsur cerita dapat ditemukan, seperti tokoh, karakter, plot, ketegangan, dan konflik. Setiap pengirim (yang ditandai dengan @nama) dituntut memainkan semua unsur drama secara efektif sehingga bisa menggugah, bahkan meletupkan ledakan yang mengesankan. Biasanya, setiap hari ada moderator yang menyodorkan tema tertentu, seperti surat, ranjang, soto, ciuman, atau soal lain. Pengikut lantas menanggapi dengan membuat cerita mungil dengan tema tadi. Istilah fiksi mini nge-trend dalam dunia sastra ketika internet begitu mendominasi dalam kehidupan kita. Dunia seolah-olah semakin berkelebat cepat dan waktu dapat dilipat dengan kecil dan praktis. Dan kita merasa semuanya menjadi penting atas segala sesuatu yang serba gegas, sekilas, dan ringkas itu. Kecepatan dan keringkasan adalah ciri tulisan internet. Melalui internet kita dapat melihat dunia hanya dengan sebuah telepon genggam. Perubahan pandangan tehadap dunia yang telah ter-multimedia-kan telah membawa sensibilitas yang baru dalam masyarakat dan kebudayaannya. Hal inilah yang membedakannya dari kultur masyarakat tulis yang memandang dunia melalui objektivitasnya. Dari penjelasan dan asumsi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kehadiran fiksi mini di media sosial merupakan produk masyarakat yang telah ter-multimedia-kan. Terbentuknya masyarakat ini disebabkan oleh kecanggihan teknologi yang dijadikan sebagai mode of information dan membentuk suatu budaya masyarakat dengan sensibilitas multimedia. Jika melihat dari bentuk yang ditawarkan oleh fiksi mini ini, maka ia membentuk kecenderungan baru dalam karya sastra atau apa yang dapat disebut sebagai karya sastra pascamodern. Dengan demikian, ia juga akan membutuhkan pendekatan-pendekatan baru dan teori-teori baru dalam ilmu sastra.

Jambi, 28 April 2014
*Penulis adalah Peneliti pada Creol Institute, Research and Cultural Relationship


Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jambi Ekspres, Minggu, 27 April 2014

[+/-] Selengkapnya...

Legitimasi Sastra: Perspektif Bourdieuian (Fenomena Terbitnya Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”)

Oleh: Ricky A. Manik Di mana tempat terjadinya pergulatan sastra? Koran, majalah, media massa lainnya, atau penerbitan (karya yang ditebitkan seperti buku)? Apakah seseorang yang karyanya terbit di media massa sudah dilegitimasi sebagai sastrawan? Atau seseorang yang karyanya telah diterbitkan menjadi buku juga disebut sebagai penyair, sastrawan, kritikus sastra, atau dramawan? Apa standar dan kriteria tertentu yang dapat melegitimasi identitas seseorang (sastrawan)? Jika identitas itu memiliki standar dan kriteria tertentu, Lacan seorang filsuf psikoanalisis Perancis tentu akan menjawabnya “Is never enough!” Standar dan kriteria itu tidak akan pernah muat untuk melegitimasi identitas itu. Ia akan selalu tergelincir (slip) dan meninggalkan celah/lobang di dalam identitas tersebut. Akan tetapi, dalam esai ini saya tidak melihatnya dari perspektif Lacanian karena saya sedang tidak ingin menemukan motivasi pengarang untuk memilik identitas dirinya sebagai sastrawan. Dalam hal ini saya akan melihatnya melalui perspektif sosiologis Pierre Bourdieu saja karena dalam perspektif ini legitimasi sastra lebih mempersoalkan pada ranah pertarungan untuk mendapatkan legitimasi dominannya di tengah masyarakat. Beberapa hari belakangan sampai hari ini pun dunia sastra kita masih dihebohkan dengan penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” terutama di media-media sosial. Pemilihan 33 tokoh ini dilegitimasi oleh tim yang terdiri dari kritikus, sastrawan, akademisi, dan pengamat sastra ini seolah memiliki kegelisahan bersama tentang peran sastra yang terabaikan dalam membangun peradaban bangsa. Dengan melegitimasi 33 tokoh ini, mereka (baca: Tim 8) mengira telah melakukan langkah awal penyelamatan dunia (ranah) sastra dari kelupaan/kealpaan dalam memberi pengaruhnya terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Dari hasil pemilihan tokoh sastra oleh Tim 8 ini yang kemudian menjadi kontroversi dan polemik adalah kemunculan nama Denny JA yang dianggap sebagai tokoh sastra yang berpengaruh di Indonesia. Nama Denny JA dianggap layak bersanding dengan tokoh-tokoh sekelas Pramoedya, Hamka, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Rendra, Iwan Simatupang, dan lain sebagainya karena (dianggap) memperkenalkan genre baru puisi-esai. Melalui genre sastra puisi-esai ini, ia menerima rekor MURI karena pertama membawa sastra ke era sosial media. Tapi dalam hal ini saya tidak akan membahas alasan-alasan apa yan membuat Tim 8 ini memilih sosok Denny JA yang lebih dikenal sebagai seorang enterpreneurship dan konsultan politik dengan mendirikan beberapa lembaga seperti LSI (Lingkaran Survey Indonesia). Saya juga tak menguji kebenaran-kebenaran alasan yang diusung oleh Tim 8 ini sebab apapun alasan, kriteria, dan standard pemilihan itu akan ada kebolongan dan kekurangannya. Saya hanya ingin mencoba melihat persoalan ini hanya dari perspektif Bourdieuian, yakni mencoba melihat bagaimana agen sosial ini bertaruh dalam ranah memperebutkan eksistensi dirinya dengan berbagai modal yang dimilikinya terutama sosok Denny JA yang kemunculan namanya menjadi perbincangan hangat saat ini. Sebelum melihat persoalan buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh ini, mari kita berkenalan dulu dengan perspektif Bourdieuian. Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Perancis yang mencoba memahami struktur sosial masyarakat baik perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Dalam analisis sosiologisnya, Bourdieu membagi beberapa konsep di dalamnya, salah satunya apa yang di awal esai ini disebutkan, yaitu tentang pergulatan, yang disebutnya sebagai arena (field). Bourdieu menyebut arena sebagai suatu jaringan atau konfigurasi dari relasi-relasi objektif antara posisi yang secara objektif didefenisikan, dalam eksistensi mereka dan determinasi yang mereka terapkan pada penganut, manusia atau institusi mereka... dalam struktur distribusi kekuasaan (modal) yang penguasaannya mengarahkan akses kepada keuntungan spesifik yang dipertaruhkan di arena, maupun oleh relasi objektif mereka dengan posisi lain. Bagi Bourdieu, arena sastra adalah ruang pergulatan agen-agen dengan masing-masing posisi yang menempati arena tersebut. Agen-agen seperti seniman, kritikus, wartawan, dosen, mahasiswa, penerbit, editor yang terlibat di dalam arena tersebut memiliki posisi dan fungsi yang berbeda. Hasil produksi dari agen-agen sastra ini adalah ajang kontestasi untuk mendapatkan apa yang disebut oleh Bourdieu sebagai legitimasi sastra. Untuk mendapatkan legitimasi di dalam arena sastra tersebut, agen-agen menerapkan strategi-strategi tertentu demi meraih posisi dan modal-modal yang dibutuhkan. Konsep arena adalah persaingan perebutan posisi-posisi tertentu sehingga struktur sosial adalah sesuatu yang dinamis yang mana seorang agen bisa berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Strategi-strategi ini dapat kita lihat pada sosok Denny JA. Diakuinya sendiri bahwa dirinya adalah seorang “pejalan budaya” seperti yang terdapat di dalam tulisannya yang berjudul Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh. “Saya lebih menganggap diri saya sebagai seorang “pejalan budaya.” Tak pernah menetap dan menjadi tuan rumah di satu wiayah budaya. Saya hanya datang berkunjung, belajar sesuatu di sana dan juga menyumbangkan sesuatu. Kini yang saya kunjungi adalah wilayah sastra. Saya belajar banyak dari sastra dan berikhtiar meninggalkan sesuatu juga di dunia sastra itu. Di era ini yang saya sumbangkan adalah puisi esai... Pada waktunya mungkin saya pergi lagi dari wilayah sastra, masuk ke wilayah lain. Mungkin saya akan berkelana ke wilayah dunia bisnis, dunia politik praktis ataupun dunia spiritual. Dan terus saya berjalan sampai ke liang kubur.” (http://infosastra.com/2014/01/05/menjadi-tokoh-sastra-berpengaruh/) Perjuangan perpindahan posisi seperti yang dilakukan oleh Denny JA pada gilirannya membutuhkan serangkaian tindakan atau praktik yang didasarkan pada, dan dipengaruhi oleh, apa yang dimiliki Denny termasuk sejarah hidupnya, yang karenanya Denny merancang strategi-strategi tertentu. Penulisan puisi esai yang dianggap oleh Tim 8 sebagai genre baru di dalam sastra merupakan strategi Denny dalam kontestasi dirinya untuk meraih sesuatu yang diperebutkan dalam arena tersebut. Selain penulisan puisi esai, Denny juga memperkenalkan gaya penulisan puisi esainya ini dengan mengadakan sayembara penulisan puisi esai dengan hadiah yang cukup besar. Jadi, dengan modal-modal yang dimiliki oleh Denny, maka ia dapat mendistribusikan dirinya untuk mendapatkan legitimasi identitas dirinya dalam arena tertentu. Sebab arena itu bersifat cair (bisa berubah dan diubah), bukan sesuatu yang tetap dan konstan, maka strategi Denny memunculkan dan memperkenalkan bentuk puisi esai dianggap membawa suatu pengaruh atau barangkali perubahan (?) dalam ranah kesusastraan Indonesia. Barangkali inilah yang dilihat oleh Tim 8 terhadap sosok Denny JA. Jika penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh adalah atas pembiayaan Denny dan yang rencananya akan diluncurkan disaat ulang tahunnya, maka buku ini juga menjadi bagian dari strategi Denny untuk menempati posisi-posisi agen (sastrawan) yang dominan di dalam arena sastra tersebut. Inilah yang disebut oleh Bourdieu sebagai trajektori agen dalam ruang sosial dan arena yang tidak dapat terlepas dari strategi sebagai cara memposisikan diri sekaligus mendistribusikan modal-modal yang ia miliki. Kita tahu bahwa Denny adalah konsultan politik dan memiliki modal-modal ekonomi yang cukup kuat, jadi bukan perkara yang sulit bagi dirinya untuk mencoba mendapatkan posisi-posisi tertentu atau legitimasi tertentu. Kemunculan nama Denny JA dalam buku tersebut dan kehebohan jagad sastra Indonesia atasnya malah memenangkan strategi Denny untuk mendapatkan legitimasi sastra atas dirinya. Menurut Bourdieu bahwa pertaruhan utama di dalam arena sastra adalah memonopoli legitimasi, yakni dengan memonopoli kekuasaan untuk mengatakan berdasarkan otoritas siapa yang berhak menyebut dirinya sebagai tokoh sastra. Status atau legitimasi kesastrawanan seorang agen yang bertaruh dalam arena tersebut menjadi hal yang krusial karena melalui defenisi itulah seorang agen mendapatkan konsekrasi atau derajat pengakuan yang memberinya peluang untuk meraih posisi tertentu di arena sastra tersebut. Dalam bahasa Bourdieu hal itu disebut sebagai tiket masuk yang sifatnya kurang lebih absolut. Jadi, apa yang dilakukan oleh Denny JA untuk mendapatkan legitimasi tokoh sastra merupakan satu dari berbagai pertanyaan di awal esai ini dan dari beberapa agen-agen sastra yang terus bertaruh guna memenangkan tempat bagi dirinya dalam sebuah arena sastra. Jambi, 11 Januari 2014 *Penulis adalah Peneliti pada Creol Institute, Research and Cultural Relationship Tulisan ini pernah dimuat di harian Jambi Ekspres tgl 12 Januari 2014

[+/-] Selengkapnya...

Hasrat Narsistik Caleg*

Oleh: Ricky A. Manik Menguasai dan berkuasa adalah keinginan yang tanpa sadar ada pada setiap manusia (subjek). Prinsipnya, tak ada seorang pun yang ingin dikuasai oleh yang lain. Bila ia dikuasai oleh yang lain, maka ia akan menguasai yang lain pula. Ini asumsi dasar, mengapa posisi kekuasaan begitu dihasrati, seperti di negeri ini. Berbicara mengenai hasrat, ia adalah laku dari psike manusia. Mengenai laku psike inilah yang tak disadari oleh Lenin ketika menjalankan ideologi komunismenya, sebuah komunisme ideal. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya tidak akan berbicara tentang Lenin dan komunismenya, saya ingin bicara tentang hasrat kekuasaan, di mana saat ini kita sering melihat pertarungan politik dalam memperebutkan kursi kekuasaan di setiap wilayah baik pusat maupun daerah. Bahwa politik kita hari ini hanyalah manuver perebutan kekuasaan semata bukan lagi sebagai upaya bersama untuk kesejahteraan bersama, sebuah kemakmuran. Apa itu hasrat? Hasrat adalah anak tiri dari sejarah filsafat manusia yang mengkultuskan rasio/akal. Hasrat senantiasa didiskriminasi dan dicurigai akan membawa kesesatan pada manusia. Hasrat dianggap makhluk liar yang akan menyebabkan kesesatan berpikir yang berujung pada distorsi epistemologis dan kesesatan bertindak yang bermuara pada distorsi etis. Pemerkosaan, perselingkuhan, perampokan, pembunuhan adalah tindakan-tindakan yang dianggap buah dari hasrat. Oleh karena itu, bagi Freud hasrat mesti ditekan, direpresi, id tak boleh menguasai atau mendominasi ego, bahkan melenyapkan superego. Berbeda dengan Jacques Lacan, seorang psikoanalisis Perancis yang meyakinkan bahwa apa yang menggerakkan kehidupan manusia itu adalah hasratnya. Setiap manusia yang mengidentifikasi dirinya dalam suatu identitas tanpa sadar dibentuk oleh hasratnya. Seorang laki-laki dengan identitas penanda lainnya seperti “baik hati”, “santun”, “bertanggungjawab”, “religius”, “tangguh”, “kuat”, dan lainnya akan menjadi penanda yang diidentifikasikan dan diinkorporasi oleh manusia atau subjek-subjek lainnya. Dengan kata lain, dalam membentuk ego idealnya atau identitasnya, subjek selalu dikonstruksi oleh imajinasinya sendiri. Menarik untuk dicermati bila hasrat akan kekuasaan itu dilihat melalui perspektif psikoanalisis Lacanian ini. Hasrat dalam Psikoanalisis Lacanian Untuk dapat memahami teori hasrat Lacanian, perlu dulu memahami trajektori pembentukan subjek Lacanian ini. Manusia mendapatkan konsep tentang dirinya, oleh Lacan dibagi berdasarkan tiga fase yang memiliki hubungan dengan tiga ranah dalam psikis manusia, pertama dinamakan fase pra-odipal pada tatanan Real (the Real), fase cermin pada tatanan Imajiner (the Imaginer), dan fase odipal pada tatanan Simbolik (the Simbolic). Dalam fase Real, manusia dikatakan berada pada tahap kebutuhan (need) di mana dalam fase Real yang ada hanya kebutuhan. Dalam fase the Real, segala sesuatu terpenuhi, tak ada kekurangan, dan utuh. Bayi sejak masa kandungan hingga dilahirkan berada pada tahap ini. Setiap kebutuhan bayi yang masih infantil dengan tubuh ibu akan selalu terpenuhi. Setelah bayi mengenal ada yang lain (liyan) selain dirinya yang dikatakan Lacan sebagai fase cermin, bayi juga masuk dalam tahap permintaan (demand). Ia meminta sesuatu yang sebenarnya tak diinginkannya yang pada akhirnya membawa dirinya pada perasaan kekurangan (lack). Inilah awal subjek lacanian dengan kekurangan permanen yang dijalaninya sepanjang usianya. Pada fase cermin ini bayi mengenal diri ideal yang dicitrakan melalui cermin. Subjek lacanian akan semakin gegar ketika ia masuk dalam tatanan Simboliknya, yang Lacan sebut sebagai “The Name of Father”. Ayah dalam Lacan adalah ayah simbolik yang memasukkan anak ke dalam dunia simbolik (aturan, norma, hukum, dll). Bayi yang berpenis akan diberi atribut kulturalnya sebagai laki-laki, pun bayi yang tak berpenis. Yang Simbolik membawa manusia pada rentetan kekurangan-kekurangan diri sepanjang hidupnya. Maka dari itu subjek lacanian dikatakan sebagai subjek yang retak, subjek yang terbelah, yang disimbolkan dengan ‘$’. Kerena kekurangan (lackness) inilah manusia selalu ingin kembali (rindu) pada tatanan Real-nya, namun hal itu tak akan pernah terjadi. Akibat dari kerinduan ini, hasrat muncul sebagai garis potong keinginan subjek menuju tatanan Real-nya. Oleh sebab itu, hasrat ada karena adanya kekurangan (lackness). Kekurangan diterima sebagai perasaan diri yang tak lagi utuh. Ibu tak dapat lagi memberi sesuatu yang menjadi permintaan anak. Anak menjadi retak dan keretakan itu menjadi kanal tempat mengalirnya hasrat-hasrat. Untuk menutupi segala yang kurang pada dirinya, manusia selalu berupaya mencari keutuhan bagi dirinya. Hasratlah menjadi penutup sementara segala kekurangan yang ada pada diri. Manifestasi-manifestasi hasrat pada subjek ini dapat kita lihat pada manusia yang menginginkan identitas pada dirinya. Identitas merupakan penanda-penanda hasrat bagi subjek agar dapat masuk dalam ranah sosialnya, seperti nama diri, agama, suku, kebangsaan, status sosial, karakteristik, dan lain sebagainya. Manusia membutuhkan identitas tersebut agar eksistensial dirinya terus terjaga. Manusia menganggap dengan adanya identitas itu, segala kekurangan pada diri dapat ditutupi. Bagaimana cara kerja hasrat ini? Dalam konsep lacanian, cara kerja hasrat terjadi pada tahap Imajiner. Di mana ketika subjek masuk dalam ranah Simbolik, maka bahasa sebagai pembentuk identitas subjek terus menerus diidentifikasi melalui citraan-citraan yang ditemui oleh subjek. Sebagai contoh, kita melihat orang yang memiliki mobil itu seolah memiliki sense of identity, diri seolah utuh dengan berada di dalam mobil, dengan identitas imajiner ‘kaya’, ‘keren’, ‘berwibawa’, ‘eksklusif’, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan identitas keartisan yang membawa pada citraan ‘keren’, ‘cakep’, ‘tenar’, ‘hebat’, ‘populer’, ‘kondang’, dan sebagainya yang mendorong kita secara imajiner berhasrat untuk mengakuisisi penanda-penanda identitas itu. Bukan pada benda seperi mobil atau sosok artis idola itu yang dihasrati sesungguhnya oleh subjek, melainkan bagaimana mobil dan identitas keartisan tersebut dapat memberi keutuhan bagi identitas atau sebuah eksistensi substansial. Hasrat Kekuasaan: Hasrat Narsistik Mekanisme hasrat termanifestasikan pada keinginan-keinginan kita akan material dan non-material. Sebut saja handphone, mobil, rumah, kekuasaan, tokoh, artis, dan lainnya yang dikira dapat membawa keutuhan identitas subjek. Seperti yang dikatakan oleh Lacan bahwa hasrat tidak muncul dengan sendirinya. Hasrat ada karena ada hasrat orang lain. Hasrat ingin mendapatkan kekuasaan muncul karena di(salah)duga memberikan keutuhan bagi eksistensi diri. Kekuasaan yang menjadi penanda utama (master signifier) akan diikuti secara metonimia dengan penanda-penanda lainnya seperti ‘hebat’, ‘pintar’, ‘elegan’, ‘kaya’, ‘terpandang’, ‘terhormat’ dan lain sebagainya. Penanda-penanda sebagai pembawa penanda utama identitas kekuasaan, seperti menjadi anggota DPR(D), Presiden, atau kekuasaan-kekuasaan penting lainnya ini akan memberikan kenyamanan sang Ego. Ketika sang Ego merasa nyaman, maka ia memberikan kepuasan pada diri, pada hasrat narsistik. Dalam Lacanian ada dua jenis hasrat manusia yang paling dominan dan paling sering direpresi: hasrat nasrsistik (menjadi) dan hasrat anaklitik (memiliki). Kedua hasrat ini saling berhubungan. Jika hasrat anaklitik merupakan hasrat ingin memiliki identitas, yang dapat memberikan rasa nyaman sementara, maka rasa nyaman itulah yang memberi kepuasan bagi hasrat narsistik. sekalipun kedua hasrat ini berada pada alam ketaksadaran bukan berarti ia bertahan selamanya disitu, ia akan mencuat keluar ketika Ego Super tak mampu lagi membendung gejolak hasrat ini. Ia mencuat tanpa disadari di wilayah kesadaran. Saat ini, segala sektor kehidupan kita telah dikapitalisasi dan dimaterialisasi, identitas-identitas primordial dan relijius yang diberikan oleh Ego Super yang kita bawa sejak kecil, melalui pemberian orang tua, pemuka agama, lingkungan, dan sekolah – seolah sudah tak mampu lagi memberikan “kenyamanan narsistik”. Orang akan dikenal, dikagumi, disenangi, dicintai apabila ia mengejawantahkan simbol-simbol kemewahan (properti), keelokan (tampan, macho, feminim), kecendikiaan (gelar-gelar), dan seterusnya. Tanpa simbol-simbol itu, kita mungkin tidak dianggap sebagai “orang”. Kekuasaan di negeri ini dapat menjadi pintu masuknya karena dapat mengakses simbol-simbol tadi. Jika melihat bagaimana orang sukses membutuhkan proses yang panjang untuk menginternalisasi simbol-simbol tersebut, maka jalan pintasnya ada pada kursi kekuasaan. Kekuasaan tentu menjadi jalan masuk untuk jalan lain untuk mendapatkan simbol-simbol itu, yaitu korupsi. Jalan pintas ini tentu saja menjadi godaan di tengah persaingan yang semakin padat. Orang-orang berpacu dengan rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkan tiket masuk kekuasaan ini. Tiket masuk itu ada pada uang. Uang menjadi alat tukar bagi atribut-atribut yang mampu mentransfer simbol-simbol yang menjanjikan kenyamanan narsistik. Hasrat ini akan berlangsung secara terus-menerus selagi simbol-simbol itu terus dipertahankan. Siapa yang mempertahankannya? Kapitalisme! Ia adalah fenomena lain yang harus dilihat sebagai penyebab munculnya hasrat-hasrat narsistik para caleg ini. Kapitalismelah yang mendorong orang untuk memaksimalkan profit dengan cara apapun. Termasuk keinginan untuk berkuasa. *Penulis adalah peneliti pada Creol Institute, Research dan Cultural Relationship Jambi, 8 November 2013 tulisan ini pernah dimuat di harian Jambi Ekspress tgl 10 Januari 2014

[+/-] Selengkapnya...

Ancaman Sistem Pendidikan

oleh: Ricky A. Manik Dalam sebuah status facebook saya pernah menuliskan tentang pendidikan kita yang terancam pada dua sistem besar, yaitu kapitalisme dan totalitarisme religius. Status itu kemudian dikomentari oleh beberapa teman, tetapi ada satu komentator yang menarik perhatian saya untuk kemudian saya tuliskan dalam esai ini. Komentator itu adalah seorang guru, bagian dari sistem pendidikan itu, yang dibeberapa komentarnya tidak mengidealkan dirinya sebagai seorang guru dengan konstruksi pemikirannya. Sebagai pendidik yang memiliki cara berfikir demikian bagi saya miris karena melalui pendidikan inilah peradaban manusia yang baik dapat dibentuk. Pendidik menjadi tonggak penting dalam menciptakan produk-produk didikan yang mandiri, bertanggung jawab, manusiawi, berjiwa sosial yang tinggi, dan bermental baik. Dalam hal ini saya tidak akan menyalahkan teman saya itu, sebab ada yang lebih esensial yang menjadi pertanyaan, mengapa teman saya itu memiliki cara berfikir seperti itu? Apakah ini mengartikan bahwa ada sistem yang sekarang sedang bekerja pada sistem pendidikan kita yang menghasilkan produk-produknya hari ini. Tetapi paling tidak, sebagai pribadi yang pernah mengecap dunia akademisi dan berprofesi sebagai pendidik mesti juga memiliki kesadaran intelektual dan kritis terhadap fenomena yang ada disekitar kita. Kesadaran intelektual itu adalah kesadaran kita untuk mau terus mengasah cara berfikir, menggali terus pengetahuan-pengetahuan dan meng-upgrade-nya dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, kesadaran intelektual adalah mentalitas ilmiah. Sikap pribadi inilah yang sesungguhnya mesti dilakukan ketika sistem dan situasinya tidak membawa pada keuntungan bagi kita untuk berkembang dan maju. Dengan memiliki mentalitas ilmiah inilah kita dapat maju dan tidak terjebak pada kebodohan, seperti di bidang politik dan bidang lainnya. Produk Pendidikan Kita Hari Ini Kembali pada bukti produk pendidikan kita hari ini. Akhir-akhir ini kita sering mendengar carut-marut persoalan bangsa ini yang terus mendera kita seperti korupsi, kemiskinan, pertikaian antarwarga/etnis, antarsiswa, perceraian, perusakan-perusakan yang dilakukan oleh ormas-ormas atas nama agama dan lain sebagainya. Seperti tak habis-habisnya yang terus saja terjadi berulang-ulang. Setiap tahun kelulusan sekolah selalu saja ada tawuran antarsiswa atau bunuh diri siswa. Diskriminasi-diskriminasi bagi kaum yang identitasnya tidak diakui oleh agama dan negara, seperti kaum syiah, ahmadiyah, dan kaum LGBT. Negara dan pemerintah yang seharusnya berperan dalam penyelesaian masalah tersebut malah kian korup mencuri hak-hak rakyat yang notabene berada digaris kemiskinan, yang memiliki hak untuk sekolah, fasilitas dan pelayanan kesehatan dan publik lainnya, serta hidup layak di negerinya sendiri. Berita-berita tentang anak membunuh ibu kandung, ayah memperkosa anaknya, bayi-bayi yang lahir tanpa dikehendaki orang tuanya, tipu-menipu dengan berbagai modus, premanisme yang berkedok organisasi formal, dan banyak lagi persoalan-persoalan lain yang menandakan manusia tak lagi menghargai manusia lainnya. Contoh lain yang barangkali dapat kita temui di dalam kehidupan masyarakat kota Jakarta atau kota-kota lainya, di mana masyarakat kita telah teratomisasi sedemikian rupa sehingga orang-orang hanya sibuk dengan urusan-urusan privat mereka terkait dengan akumulasi kekayaan atau mempertahankan hidup mereka dengan kebutuhan-kebutuhan dasar belaka. Hal ini tidak bisa disalahkan juga mengingat kondisi hari ini menggiring kita untuk memprioritaskan keselamatan diri dan keluarga sebagai yang utama. Hal ini tentu saja menggerus sistem kehidupan bersama dalam bentuk solidaritas sosial dan keadilan, sebab bukan lagi sebagai prioritas utama. Orang-orang menjadi tidak peduli lagi ketika terjadi suatu ketidakadilan, orang-orang tidak peduli lagi ketika ada orang lain yang menderita bukan karena keinginannya atau kesalahannya, melainkan karena terlahir dengan kelas sosial yang tak tepat, dan orang-orang pada akhirnya menganggap kejahatan dan penderitaan sebagai suatu biasa. Seorang filsuf perempuan asal Jerman Hannah Arendt menganggap bahwa kejahatan hari ini menjadi suatu yang banal. Kejahatan bukan lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi sudah menjadi sebagai rutinitas sehari-hari. Ketika manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya, manusia yang tidak lagi dihargai dirinya sebagai makhluk yang tinggi derajatnya. Kita melihat manusia telah kehilangan humanismenya. Inilah wajah-wajah atau produk-produk pendidikan kita, yang menghasilkan manusia-manusia yang tidak lagi menghargai hakekat kemanusiaan. Pendidikan kita hari ini memang tidak mengajak dan mengajarkan tentang nilai-nilai kemanusiaan itu. Manusia kehilangan esensinya sebagai makhluk yang beradab. Melihat persoalan bangsa di atas, maka saya berani mengatakan bahwa pendidikan kita telah gagal memberikan sumbangan pada proses humanisasi atau memanusiakan manusia. Pendidikan seharusnya menjadikan kemanusiaan sebagai dasar bagi sistem pendidikannya. Ancaman Bagi Sistem Pendidikan Seperti yang saya kemukakan diawal tulisan ini bahwa sistem pendidikan kita terancam oleh dua sistem ekstrem, yaitu totalitarisme religius atau fundamentalisme agama dan kapitalisme atau fundamentalisme pasar. Pada sistem totalitarisme religius, kita digiring pada ketaatan yang buta sehingga kita tidak mampu untuk berfikir mandiri. Agama menjadi sesuatu yang absolut, yang tak perlu dipertanyakan lagi. Begitu pula dengan sistem kapitalisme yang memiliki logika mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Ia bersinergi dengan sistem globalisasi yang menganut pandangan bahwa manusia harus mampu bersaing secara ekonomi. Mereka harus bekerja di dalam sistem global yang modern dan berteknologi tinggi. Mereka seolah dituntut untuk memiliki kemampuan yang tepat dan bagaimana hidup efisen untuk mencapai keberhasilan ekonominya. Sistem-sistem tes dan standar-standar bahan ajar bukan malah membebaskan anak didik dalam menentukan dirinya sendiri melainkan mencekik jiwa mereka. Contoh lain yang dapat kita lihat dari sistem totalitarisme religius adalah perilaku-perilaku ormas yang berkedok agama yang begitu berkuasanya dalam melakukan penghakiman sendiri karena dianggap menyimpang dari norma-norma agama. Negara dan aparatusnya tak dapat berbuat banyak ketika dalil agama atau ideologi tertentu dijadikan acuan dalam tindakan tersebut. Inilah yang mendorong manusia pada ekslusivisme diri dengan mengabaikan identitas orang lain. Ketika orang lain itu berbeda dari norma-norma dan nilai-nilai di dalam keyakinan dan kultur kita, maka dengan gampangnya kita me-label-kannya sebagai yang ‘menyimpang’, ‘sesat’, ‘kafir’, ‘abnormal’, ‘PKI’, dan berbagai stigmatisasi yang dilekatkan pada diri orang tersebut. Mereka itu berhak disingkirkan, dijauhi, atau mungkin dilenyapkan karena dianggap akan merusak keyakinan, moral, dan kultural. Efek dari sistem ini adalah kepatuhan dan tunduk akan ideologi tertentu dengan doktrin-doktrin religiusnya yang eksklusif dan tradisional. Sedangkan pada sistem kapitalisme mencengkram orang pada ketidaksadaran diri untuk menjadi konsumtif dan hanya sibuk mengumpulkan uang. Sistem ini menciptakan manusia-manusia yang menjadikan uang dan daya beli sebagai ukuran kemanusiaan seseorang. Kedua sistem ini jelas menjajah kebebasan kita dan membawa penderitaan dalam hidup. Tujuan utama pendidikan menurut Chomsky adalah menciptakan manusia-manusia yang bebas, yang mampu berhubungan satu sama lain dalam situasi dan kondisi yang setara. Memang, pendidikan adalah suatu proses produksi, tetapi bukan produksi barang cetakan yang ketat, melainkan produksi manusia-manusia bebas. Pengertian bebas di sini bukan berarti sebebas-bebasnya, tetapi juga memproduksi warga negara yang bijak. Selain bebas berkarya dalam menentukan kehidupannya, sebagai warga negara juga patut patuh pada hukum yang berlaku. Jika hari ini kita tak juga menyadari ancaman dari kedua sistem ini, maka masa depan produk pendidikan kita akan semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan kita hanya akan menciptkan manusia-manusia yang memiliki pola pikir ingin mendominasi dan mengumpulkan harta serta kuasa semata. Seperti dalam bahasa Adam Smith yang dikutip oleh Chomsky, yakni pendidikan yang menjadikan manusia sebagai penguasa dari manusia lainnya, yang rakus, serta tidak ingin membagikan apapun untuk siapapun, kecuali itu memberikan keuntungan pada dirinya. Jambi, 14 September 2013 *Penulis adalah peneliti pada RODA culture and education

[+/-] Selengkapnya...

Template by : x-template.blogspot.com